Sabtu, 17 Januari 2015

Ilmu Sosial Dasar - Permasalahan di Masyarakat

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Masalah social muncul akibat terjadinya perbedaan mencolok antara nilai dalam masyarakat dengan realita yang ada. Yang dapat menjadi sumber masalah social yaitu seperti proses social dan bencana alam. Adanya masalah social dalam masyarakat ditetapkan oleh lembaga yang memiliki kewenangan khusus seperti tokoh masyarakat, pemerintah, organisasi social, musyawarah masyarakat dan nilai sebagainya.

BAB II
ISI
Pembahasan
1.      Teori
Menurut Soerjono Soekanto (Lektor Kepala Sosiologi dan Hukum Adat pada Fakultas Hukum Universitas Indonesia) masalah social adalah suatu ketidaksesuaian antara unsur unsur kebudayaan atau masyarakat, yang membahayakan kehidupan kelompok social. Jika terjadi bentrokan antara unsur unsur yang ada dapat menimbulkan gangguan hubungan social seperti kegoyahan dalam kehidupan kelompok atau masyarakat.
2.      Pertumbuhan Penduduk dan Migrasi

TABEL I
PERKIRAAN DAN PROYEKSI PENDUDUK DUNIA
TAHUN
JUMLAH JIWA
8.000-7.000 SM
10 juta
1.
250juta
1650
500 juta
1800
900 juta
1850
1.000 juta
1900
1.500 juta
1930
2.000 juta
1950
2.500 juta
1960
3.000 juta
1970
3.600 juta
1980
4.600 juta
1990
5.700 juta
2000
6.500 juta
Sumber : Buku Paket Latihan Pendidikan Kependudukan, DGI-BKKBN Jakarta 1982. H. 61.
a.       Penduduk dunia dan masalahnya
Pada awal zaman modern sampai kira kira tahun 1650, penduduk dunia telah mencapai 500 juta jiwa. Sejak zaman inilah penduduk dunia terus meningkat dengan cepat. Hal itu dimungkinkan oleh adanya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Termasuk salah satu diantaranya ilmu kedokteran juga berkembang.
Berkat kemajuan ilmu kedokteran, pemeliharaan kesehatan penduduk termasuk usaha-usaha imunitas menjadi lebih terjamin. Oleh karena itu tingkat kematian bayi-bayi yang lahir menjadi lebih rendah, sampai ia tumbuh subur dan akhirnya bersuami/beristri dan mempunyai anak dan cucu.
Akan tetapi pada kenyataannya tidak semua negara didunia mengalami pertumbuhan penduduk yang begitu pesat.
Negara-negara Eropa Barat pada abad 20 ini cenderung mengalami kondisi stasioner, bahkan Jerman Barat cenderung memiliki lebih sedikit jumlah penduduk berumur muda, dibandingkan dengan jumlah penduduk dewasa. Dengan begitu negara ini mempunyai masalah penduduk bukan pertumbuhannya, tetapi, kekurangan penduduk berusia mudasebagai generasi penerus. Kemungkinan menambah penduduk berusia muda sebagai generasi penerus bagi negara-negara Eropa Barat khususnya, secara legal dilakukan melalui adopsi anak/bayi. Kita sering mendengar praktek adopsi yang tidak wajar bagi bayi-bayi Asia, tidak terkecuali bayi-bayi dari Indonesia.
Peluang untuk mengadopsi anak-anak/bayi Asia disalahgunakan oleh sindikat gelap, laksana zaman perbudakan,anak-anak/bayi itu diperjualbelikan.
b.      Pendidikan dan Kesehatan di negara-negara berkembang
1)Pendidikan
Penduduk pedesaan, terutama anak-anak usia sekolah di negara-negara berkembang di Afrika, Asia dan Amerika Latin sebagian besar tidak memperoleh kesempatan menempuh jenjang pendidikan di sekolah, akibat dari kondisi kemiskinannya.
      Suatu hasil survey UNICEF membuktikan bahwa 58%anak-anak pedesaan miskin di Delhi India, tidak bersekolah karena orang tua mereka tidak mampu membayar biaya sekolah, dan 31% terikat kerja rumah tangga, termasuk merawat adik yang masih kecil. Hasil syrvey yang sama di kampung miskin di kota Madras India, mengungkapkan bahwa 45% dari orang tua penghuni kampong miskin, menyatakan bahwa anak-anaknya tidak bersekolah karena alasan tidak mampu membayar uang sekolah; dan 20% lainnya karena anak-anak mereka harus menolong menyelesaikan pekerjaan rumah.
      Di samping unsur tekanan ekonomi, penduduk pedesaan miskin paling sering kekurangan bangunan sekolah dan guru yang memenuhi syarat. Bahkan yang lebih tragis, desa itu tidak memiliki sekolah dasar.
      Di negara-negara berkembang terdapat variasi anak-anak usia sekolah yang mendapat kesempatan dalam pendidikan formal. Di Honduras (Amerika Latin), 72% dari anak-anak usia 7 sampai 14 tahun dapat bersekolah. Di Karachi (Pakistan) 50% anak usia sekolah berumur antara 5-10 tahun terdaftar pada sekolah dasar, persentase ini segera menurun menjadi 33% bagi kampong-kampung miskin.
      Di pedesaan sekitar Dakar ibukota Senegal(Afrika Barat), persentase kanak-kanak untuk masuk sekolah dasarsebesar 38%. Sedangkan suatu studi di Abijan ibukota Republik Pantai Gading (Afrika Barat) mencatat gradasi persentase anak-anak sekolah bergantung pada fungsi pekerjaan ayah seorang anak. Semakin tinggi status/jabatan pekerjaan semakin tinggi pula jumlah persentase anak-anak yang masuk sekolah. Data lapangan menunjukkan 73% anak-anak usia sekolah berasal dari kelompok ayah sebagai staf menengah; 43% berasal dari anak-anak pedagang; 27% lainnya berasal dari anak-anak petani.
2) Kesehatan
      Penduduk usia muda pada negara-negara amat sering kedapatan menderita kekurangan vitamin A, kasus-kasus penderita kekurangan vitamin A yang menonjol, misalnya terjadi pada anak-anak di negara-negara Asia Selatan, Asia Tenggara, seperti Birma, Srilangka, India bagian selatan, Indonesia dan Malaysia. Penderita kebutaan dan anemia pada tipe dan tingkatan tertentu.
      Penyakit-penyakit menular seperti tuberculosis, banyak menyerang penduduk di daerah pemukiman kampong-kampung miskin di perkotaan, antara lain di Kalkuta (India) dan di Ibadan di Nigeria bagian barat (Afrika Barat). Parasite-parasit usus penyebab penyakit cacingan (Askaris) banyak diderita oleh anak-anak di perkampungan miskin di Lagos (ibukota Nigeria). Laporan-laporan UNICEF juga mengungkapkan bahwa penyakit poliomyelitis banyak diderita oleh anak-anak di Srilangka dan Kenya (Afrika Timur). Sebanyak 58% dari anak-anak cacat di Kenya sebagai akibat poliomyelitis, dimungkinkan oleh fasilitas injeksi yang tidak memadai.
      Bersumber dari pada konsultan kesehatan dari World Health Organization (WHO) di Zimbabwe (Desember 1983) ditemukan kurang lebih sejuta penderita penyakit lepra atau kusta di seluruh wilayah Zimbabwe. Penyakit itu menyerang penduduk pada usia produktif, antara 8 sampai 40 tahun. Terdapat indikasi-indikasi bahwa penyakit ini telah merambat pada anak-anak usia 7 tahun. Keistimewaan penyakit ini penularannya tidak diketahui pasti. Baru ada tanda-tanda bisul kecil atau koreng, biasanya pada kaki, pada saat itulah disadari oleh seseorang bahwa ia telah terjangkit penyakit lepra atau kusta.
      Beberapa survey konsumsi makanan dilakukan di Asia menunjukkan bahwa pemakaian kalori rata-rata penduduk berada di bawah tingkat yang dibutuhkan di beberapa negara. Pemakaian protein total sangat rendah seperti yang dialami penduduk di India, Malaysia, Pakistan, Filipina dan Thailand. Fakta-fakta di lapangan membuktikan bahwa penduduk negara-negara berkembang kekurangan makanan berkadar protein hewani. Salah satu sebab membuktikan bahwa di beberapa kalangan masyarakat pedesaan masih berlaku “tabu” yang melarang memakan ikan, buah-buahan dan sayur-mayur. Hal semacam itu berlaku di kalangan masyarakat di beberapa daerah di Burma, Indonesia, Malaysia dan Filipina. Tabu dan pantangan seperti itu berlaku dari kehamilan 7 bulan sampai 50 hari sesudah kelahiran. Resiko dari melakukan tabu dan pantangan itu para ibu hamil harus menanggung kekurangan protein hewani, dan boleh jadi akan melahirkan bayi-bayi cacat dari lahir atau lahir dengan ketahanan tubuh yang rapuh. Laporan UNICEF tahun 1983 mengungkapkan bahwa hanya 1% saja dari anak-anak didunia yang tegas-tegas kekurangan giziyang tidak ketahuan, justru terhadap mereka yang menderia kurang gizi tidak ketahuan itu, sebagai penyebab mengapa mereka tidak dapat tertolong.
3) Perhatian para negarawan dan ilmuwan terhadap masalah penduduk dunia
      Para negarawan dan ilmuwan sungguh sungguh meyadari dan telah memperhitungkan betapa besar bencana yang ditimbulkan oleh ledakan penduduk dunia. Berdasarkan estimasi perkembangan penduduk dunia yang sangat mencemaskan itu lahirlah Kelompok Roma (Club of Rome). Siding pertama kalinya diselenggarakan di Accademia dei Lincei di Roma, pada tahun 1968, atas undangan  Kanselir Austria, sejalan dengan itu pada tahun 1969, Sekretaris Jendral PBB (pada waktu itu U Than) menyatakan bahwa bagi anggota PBB “barangkali hanya tinggal sepuluh tahun lagi untuk menekan pertikaian-pertikaian lama mereka, serta melancarkan suatu kerja sama semesta untuk mengekang perlombaan senjata, memperbaiki alam lingkungan manusia, memadamkan eksplosi penduduk, dan memberi daya gerak yang diperlukan bagi usaha-usaha pembangunan.” Sidang-sidang berikutnya : tahun 1970 di Swiss, tahun 1971 di Jouy, dekat Paris, Perancis dan bulan Oktober 1973 diselenggarakan di Tokyo Jepang.
      Kelompok Roma melakukan studi internasional selama 18 bulan  dengan biaya dari Yayasan Volkswagen di Jerman. Tim Studi Internasional itu beranggotakan 17 orang, diketuai oleh Dr. Dennis L. Meadow dari Massachusetts Institute of Technology (MIT). The Limits to Growth (Batas-batas Akhir Pertumbuhan Dunia) merupakan gerakan tahap pertama dari proyek  internasional itu.
      Metode  kerjanya menggunakan jasa computer, yang lebih dikenal dengan Model Dunia Promotif, adalah suatu model menurut Dynamica System yang merupakan metode baru untuk memenuhi kelakuan dinamis dari system-sistem yang kompleks. Pengetahuan bahwa struktur setiap system banyaknya hubungan yang bersifat berputar, kait-mengkait.
      Metodologi system dinamik itu sebagai karya rintisan Prof. Jay Forrester dari MIT. Model dunia ini secara khusus dibuat untuk mempelajari kelakuan kelima unsur dominan, yaitu :
1)      Penduduk yang makin bertambah
2)      Makin pesat industrialisasi
3)      Produk pertanian
4)      Makin habis sumber-sumber alam yang tak tergantikan
5)      Dan makin rusak alam lingkungan, serta mempelajari berbagai pengaruh timbal balik terhadap system dunia dalam jangka panjang.
Dari studi tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa apabila kondisi-kondisi yang berlaku sekarang ini dibiarkan kadaluarsa, maka dalam waktu 100 tahun saja, daya tahan dan keseimbangan bumi kita akan mencapai batass kemampuan terakhir. Ini berarti akan lumpuhlah system-system  pendukung dan pembangkit tatanan kehidupan di muka bumi ini.
4) Interaksi eksponensial dari lima variable yang dominan
Kelima variable yang dominan membuktikan saling mempengaruhi satu sama lain. Penduduk bertambah, kebutuhan sandang pangan dan papan harus bertambah. Pengingkatan produksi pangan  akan berkait dengan penyediaan lahan dan irigasi teknis yang memadai, disamping modal yang cukup.
Bumi kita mempunyai kira-kira 3,2 milyar hektar tanah yang potensial baik untuk pertanian. Separuh dari luas tanah itu yang paling subur dan paling mudah dijangkau oleh manusia telah digarap secara turun menurun dan terus menerus. Semakin bertambah manusia, cenderung makin berkurang lahan pertanian dan pemukiman, akan semakin terasa pula “lapar lahan” baik untuk perumahan maupun kegiatan pertanian.
Diperkirakan pada saat jumlah penduduk dunia menjadi dua kali lipat, akan dihadapi krisis kekurangan tanah yang serius. Krisis kekurangan tanah pertanian tidaklah cukup secara tiba-tiba, melainkan diawali dengan berbagai gejala sebelum kebutuhan tanah pertanian melebihi dari cadangan tanah yang masih ada.
Krisis berikutnya segera menyusul. Produksi pangan tidak mencukupi kebutuhan hidup manusia. Produksi pangan seolah-olah tidak punya arti apa-apa, begitu muncul akan hilang lenyap  ditelan lautan manusia. Harga-harga pangan akan melambung tinggi, sehingga pada saatnya terjadi bahaya kelaparan.
Dari segi lain, akibat pertumbuhan penduduk eksponensial, lingkungan perkotaan mengalami pencemaran cukup berat, bersumber dari knalpot-knalpot kendaraan bermotor yang memuntahkan produk-produk karbon dioksida setiap saat. Pada sisi lain, penduduk perkotaan juga diancam oleh membengkaknya polutan (Zat-zat pencemar yang menimbulkan polusi), sampah, limbah industry dan limbah rumah tangga.
Kini ancaman polutan bagi umat manusia yang sangat serius dating dari sampah-sampah organic. Beberapa contoh akibat semakin banyak sampah organic dibuang diluar Baltik yang kemudian membusuk , kadar zat asam di dalam air laut terus menerus berkurang. Hal ini berakibat akan mematikan mahluk-mahluk hidup di laut, tidak terkecuali ikan.
Pada dimensi lain, akibat bertambahnya penduduk dunia yang diiringi dengan peningkatan taraf hidup, memungkinkan segera meningkat pula kebutuhan akan sumber-sumber alam berupa : hutan, air, mineral/barang tambang dan bahan galian sebagai bahan baku industry alam lebih cepat terkuras. Satu contoh, betapa haus manusia akan sumber-sumber alam, pada tahun 1950 penduduk Amerika Serikat mengkonsumsi7 bilyun kaki kubik gas alam. Pada tahun 1971 mereka melahap gas alam sebanyak 23 bilyun kaki kubik.
Berapa banyak konsumsi BBM oleh umat manusia di dunia pada tahun 1983? Berapa banyak pula konsumsi barang tambang dan bahan galian untuk memenuhi kebutuhan industry setiap tahun? Tidak dapat disangkal lagi, memang cabang- cabang kehidupan di bumi ini akan mempunyai batas akhir. Apalagi bila umat manusia lupa akan sifat-sifat alami. Alpa untuk melestarikan lingkungannya, terutama hutan, air dan tanah.
Andaikata kelima variable pokok berkembang seterusnya dengan ukuran seperti selama 70 tahun terakhir, apakah yang akan terjadi pada system dunia kita bila mencapai batas-batas maksimumnya? Karena persediaan sumber-sumber alam yang tak tergantikan sudah semakin habis, maka daya pikul dunia akan dilampaui, dan terjadilah keruntuhan kehidupan di dunia.
c.       Usaha mengatasi masalah penduduk dunia
Kenaikan pesat jumlah penduduk dunia, terutama di negara-negara Asia, Afrika dan Amerika Latin, mendorong usaha-usaha bersama negara-negara di dunia untuk segera menentukan langkah-langkah kongkret dalam penanggulangan problem-problem penduduk dunia.
Untuk mencapai suatu ekosistem penduduk dunia yang stabil, diperlukan langkah-langkah sebagai berikut :
1)      Penduduk distabilisasi/diseimbangkan
2)      Konsumsi sumber alam dan pembangkit polusi harus dikurangi sampai seperempat dari tigkat konsumsi tahun 1970-an
3)      Penyelenggaraan pendidikan dan pengadaan fasilitas kesehatan lebih diutamakan.
Ada 4 macam teknik pelayanan kesehatan, yaitu :
(1)   Mengikuti pertumbuhan anak
(2)   Penggunaan air susu ibu
(3)   Imunisasi
(4)   Pengobatan Oral Rehydration Therapy (ORT)
4)      Penekanan lebih besar diberikan kepada produksi bahan pangan, sehingga akan cukup tersedia untuk memenuhi kebutuhan setiap orang.
5)      Prioritas besar diberikan kepada usaha-usaha penyuburan dan perlindungan tanah untuk mencegah erosi

d.      Masalah penduduk di Indonesia
Masalah penduduk (Population Problem) merupakan masalah yang bersegi banyak, dan pemecahan masalah itu tidak dapat dilakukan dengan cara  satu segi dan secara sesaat dengan cepat.
Masalah penduduk timbul sebagai akibat dari perubahan penduduk, antara lain :
1)      Pertambahan atau pengurangan penduduk. Keduanya dapat mengakibatkan perubahan bahan dalam humas welfare dan struktur penduduk
2)      Kerapatan/kepadatan, dan penyebaran penduduk, yang akan mempengaruhi tata ekonomi, tata pergaulan, tata politik dan budaya masyarakat.
Pertumbuhan penduduk satu belum merupakan masalah penduduk yang vital. Sebenarnya pertumbuhan penduduk saja tidak akan  menimbulkan masalah penduduk, bilamana ini dapat ditimbangi penambahan kebutuhan hidup dan penyebarannya yang merata. Justru pada kasus pada negara-negara tertentu. Seperti Jerman, Prancis, setelah Perang Dunia II kurangnya penduduk merupakan masalah sebab menimbulkan gejala semakin kurangnya tenaga kerja (man power). Tetapi  untuk negara-negara sedang berkembang dan terbelakang, jumlah penduduk yang besar menjadi masalah.
Beberapa masalah penduduk yang erat hubungannya dengan manusia dan lingkungan alam.
Untuk ini dapat kita pelajari beberapa masalah kependudukan yang disebabkan karena :
1)      Rapat Penduduk (Population Density)
      Pengertian untuk mengenai rapat penduduk ialah perbandingan antara jumlah orang dengan tanah yang didiami/diolah dalam satuan luas.
      Untuk daerah rural(desa) satuan luas ini dinyatakan dalam satuan kilometer persegi atau hectare. Sedangkan untuk daerah urban(kota), di mana orang sudah banyak yang hidup dalam gedung bertingkat, satuan luas dinyatakan dalam meter persegi.
      Kegunaan mengetahui angka kerapatan penduduk adalah sebagai berikut :
a)      Untuk mengetahui ada tidaknya gejala overpopulation.
b)      Untuk mengetahui pusat-pusat aglomenrasi penduduk.
c)      Untuk mengetahui penyebaran dan pusat-pusat kegiatan ekonomi maupun budaya.

2)      Penyebaran penduduk (Population Distribution)
      Tersebarnya penduduk dalam beberapa wilayah sangat tergantung  dari faktor-faktor : lokasi, iklim, sumber alam kemudian transportasi dan sebagainya.
      Di Indonesia penyebaran penduduk tidak merata dan penyebaran yag tidak merata ini menimbulkan masalah kelebihan, kekurangan penduduk untuk beberapa daerah tertentu.
Untuk ini dapat kita lihat table sebagai berikut :
TABEL 4
Jumlah Penduduk, luas tanah dan kepadatan penduduk Indonesia menurut Sensus Penduduk 1971.
No
Daerah
Jumlah Penduduk (x1000)
Luas Tanah
Kepadatan
1
Jawa & Madura
76.103
134.703
565
2
Sumatera
20.813
541.174
38
3
Kalimantan
5.152
550.843
9
4
Sulawesi
8.535
227.654
37
5
Pulau-pulau lain
8.008
572.708
14

TABEL 5
Kepadatan Penduduk Jawa, Luar Jawa dan Indonesia tahun 1973 dan 1978
Luas (1000 km2)
Penduduk 1973 (Juta)
Penduduk 1978 (Juta)
Kepadatan Penduduk 1973 per km2
Kepadatan Penduduk 1978 per km2
Jawa 135
80
89
594
660
Luar Jawa 1.892
46
53
24
28
Indonesia 2.027
126
142
62
70


3)      Kelebihan Penduduk dan kekurangan Penduduk (Over Population dan Under Population)
      Akibat langsung dengan adanya kelebihan penduduk ialah timbulnya pengangguran. Di daerah pedesaan di mana unsur gotong royong masih sangat kuat, maka adanya pengangguran ini tidak Nampak, sehingga sering disebut pengangguran tidak kentara (disyuised unemployment).
      Akibat tidak langsung dari hal ini adalah timbulnya kriminalitas. Sedang akibat dari under population ialah kurangnya tenaga kerja di sektor-sektor yang sangat memerlukan tenaga manusia misalnya pada saat akan diadakan ekstensifikasi pertanian dan sebagainya.
4)      Masalah Penduduk yang dihadapi oleh Negara yang sedang berkembang.
a)      Masalah Kelebihan Penduduk
      Dalam kehidupan sehari-hari kita lebih banyak mempersoalkan masalah kelebihan penduduk dari pada kekurangan penduduk. Hal ini disebabkan karena pada umumnya negara-negara sedang berkembang dijatuhi dengan akibat yang langsung maupun tidak langsung dengan adanya pertambahan penduduk yang cepat.
      Untuk ini ada dua macam kelebihan penduduk yang kita perlu ketahui, yaitu :
(1)   Kelebihan penduduk yang absolut.
Yaitu apabila suatu daerah dalam waktu tertentu, telah tidak dapat memberikan kebutuhan hidup kepada manusia yang berdomisili di wilayah tersebut.
(2)   Kelebihan penduduk yang relative.
Yaitu apabila suatu daerah dalam waktu tertentu kebutuhan hidup yang ada sudah tidak sesuai lagi dengan tuntutan kemajuan ekonomi dan perkembangan social.

Penggunaan angka kerapatan penduduk sebagai ukuran ada tidaknya kelebihan penduduk. Sering kita menggunakan angka kerapatan penduduk sebagai ukuran untuk mengetahui ada tidaknya kelebihan penduduk. Hal yang demikian itu adalah tidak benar.
Di daerah-daerah di mana penduduk masih melaksanakan shifting  Cultivation  atau system lading; angka rapat penduduk maksimum 50/km2.
Ini berarti apabila di daerah pertanian yang intensif, kerapatan penduduk 200/km2, mungkin belum menimbukan masalah penduduk. Di Indonesia beberapa daerah telah mengalami kelebihan penduduk, penduduk relative, seperti di Jawa dan Madura, dengan angka kepadatan penduduk 447/km2. Sedang di luar Jawa dan Madura beberapa daerah masih kekurangan penduduk seperti Kalimantan 9/km2, Maluku ±11/km2 dan sebagainya.
b)      Masalah Tingkat Pendidikan Masyarakat yang Relatif Rendah.
Mengingat negara yang sedang berkembang sehingga untuk melaksanakan pembangunan dalam segala bidang belum dapat berjalan dengan cepat, karena kekurangan modal maupun tenaga-tenaga ahli atau terdidik. Akibatnya fasilitas secara kualitatif dalam bidang pendidikan masih terbatas. Oleh karena itu masyarakat dalam mencapai pendidikan yang tinggi pun masih sedikit sekali. Yang hal ini disebabkan antara lain :
(a)    Kurangnya fasilitas pendidikan dalam segala tingkatan dan di seluruh daerah
(b)   Pendapatan perkapita penduduk yang masih rendah sehingga belum dapat memenuhi kebutuhan hidup primer pada umumnya dan untuk biaya sekolah.
Tingkat Pendidikan yang dapat dicapai oleh masyarakat Indonesia, dapat dilihat pada table berikut ini
TABEL 6
Penduduk Indonesia, umur 10 tahun ke atas yang telah dapat mencapai tingkat pendidikannya tahun 1971 (menurut sensus 1971)
No
Tingkat Pendidikan
Banyaknya (%)
1
Tidak Sekolah
41,01
2
Belum tamat SD
32,37
3
Sekolah Dasar
19,38
4
SLO (Umum + Kejurusan)
4,3
5
SLA (Umum + Kejurusan)
2,03
6
Akademi
0,17
7
Universitas
0,14
Sumber : Biro Pusat Statistik, Jakarta.
Dari table tersebut ternyata banyaknya penduduk yang masih buta huruf maupun putus SD adalah besar prosentasenya. Oleh karenanya masalah pendidikan menjadi masalah Nasional yang cukup gawat, di mana dikatakan bahwa tinggi rendahnya tingkat pendidikan masyarakat menggambarkan tinggi rendahnya kemajuan bangsa.
5)      Masalah Pendapatan atau Produksi Perkapita dan Tinggi Pertumbuhan Penduduk.

TABEL 7
Produksi Perkapita dan tingkat Pertambahan Penduduk di beberapa Negara Asia.
Negara
GNP. Perkapita (US. Dollar)
Tingkat Pertumbuhan Penduduk (%)
Jepang
1.190
1,1
Malaysia
330
3,5
Korea Selatan
180
2,4
Pilipina
180
3,5
Srilangka
180
2,3
Thailand
150
3,1
Vietnam Selatan
130
2,6
Kmer
120
2,2
Laos
100
2,4
Pakistan
100
2,1
India
100
2,5
Indonesia
100
2,5
China
90
1,8
Birma
70
2,2
Sumber : Majalah Geres – FAO – Riview, Sept. Okt. 1972 Hal 10 – 11.
6)      Kebijaksanaan Kependudukan
(1)   Maksud diadakannya Kebijaksanaan Kependudukan adalah untuk dapat lebih tercapainya kesejahteraan penduduk/masyarakat dalam arti yang luas, terutama terjadinya keseimbangan antara jumlah penduduk dengan hasil pembangunan baik melalui pertanian, industry, impor dan ekspor dan sebagainya (pidato kenegaraan Presiden RI 16 Agustus 1969).
(2)   Pengertian kebijaksanaan Penduduk :
Pada prinsipnya kebijaksanaan suatu Negara yang menyangkut kemakmuran penduduknya dapat digolongkan dalam kebijaksanaan kependudukan.tetapi pada umumnya yang dimaksud hanyalah kebinaan yang menyangkut perubahan kuantita dan kualita penduduk pemancaran penduduk, atau jumlah jiwa dan pemukiman dalam hubungannya dengan sumber-sumber yang tersedia setiap orang.
(3)   Pelaksanaan Kebijakan Kependudukan :
Dalam melaksanakan kebijaksanaan kependudukan untuk penyelesaian masalah penduduk dapat ditempuh beberapa usaha yang dapat dilaksanakan sendiri-sendiri berturut-turut atau secara bermacam-macamsekaligus tergantung kepada keadaan setempat.
Kebijaksanaan kependudukan dinegara maju dan di Negara-negara bekembang, lihat buku Pendidikan Kependudukan halaman 267-269.
Dalam usaha mengimbangi pertambahan penduduk perlu hasil-hasil pertanian dan peternakan dipelihara, dipertahankan dan ditambah, yang dapat dilaksanakan dengan :
a)      Preservasi : dalam hal ini diusahakan agar kualitas dan kuantitas hasil bumi diperbaiki untuk masa-masa yang akan dating.
b)      Restorasi : agar berhasil, hasil bumi dan ternak agar tetap tinggi perlu dipelihara sumber-sumber biotik dengan mencegah penyakit-penyakit tanaman dan hewan.
c)      Benefisiasi : sumber-sumber alam tetap dipelihara kelangsungan fungsinya beserta perkembangannya, agar makin banyak tenaga alam dapat dipergunakan dalam proses pembangunan.
d)      Reklamasi : penambahan hasil pertanian dapat dijalankan dengan mengubah tanah-tanah improduktif menjadi produktif.
7)      Usaha-usaha yang dilaksanakan Kebijaksanaan Kependudukan
(1)   Usaha Ekstensifikasi dan Intensifikasi Pertanian
a)      Ekstensifikasi Pertanian L untuk menambah hasil bumi, areal pertanian harus diperluas dengan jalan membuka hutan atau mengeringkan rawa-rawa.
b)      Intensifikasi Pertanian
Untuk perbaikan-perbaikan dalam bidan bercocok tanam meliputi pemupukan, pengairan, pemilihan bibit unggul, pembuatan teras sawah rotasi tanaman dan lain-lain, dapat menambah kualitas dan kuantitas produksi pertanian. Intensifikasi ini dilakukan pada daerah-daerah yang sudah tidak memungkinkan terjangkaunya perluasan areal pertanian. Seperti di Indonesia antara lain Jawa, Madura dan Bali.
(2)   Transmigrasi
Pemindahan penduduk daerah padat ke daerah yang tidak atau kurang padat dapat mengurangi populations pressure di daerah pengirim, dan dapat menimbulkan daerah-daerah pertanian baru di daerah yang menerima.
Untuk di Indonesia, daerah-daerah yang padat penduduknya terutama di Jawa, Madura dan Bali.
Sedang daerah penerima :
Sumatera : Rimbo Bujang, Sitiung dan sebagainya
Kalimantan : Kalimantan Barat, Timur dan sebagainya
Sulawesi : Sulawesi Tenggara dan pulau-pulau lainnya.
(3)   Industrialisasi :
Industrialisasi ini diusahakan agar kebutuhan penduduk dapat dilayani secukupnya dengan cepat dan merata tetapi tidak mengurangi kualitas produk, sehingga dapat mengurangi penderitaan penduduk, menaikkan taraf hidup mengurangi masalah-masalah social ekonomi. Penyebaran Industrialisasi : pembangunan industry sebaiknya dapat menyebar ke seluruh wilayah Indonesia sehingga dengan desentralisasi industri ini akan mendorong pembangunan di masing-masing daerah.
(4)   Keluarga Berencana :
Keluarga Berencana telah diprogramkan oleh pemerintah Indonesia sejak tahun 1968 yang secara efektif baru berjalan mulai tahun 1970.
(a)    Sifat Pelaksanaan Program Keluarga Berencana adalah sukarela bagi pengikut/pesertanya. Tidak boleh ada paksaan dari Pemerintah maupun Petugas, sebab ini diselaraskan dengan Falsafah Bangsa Indonesia yaitu Pancasila.
(b)   Sarana Program Keluarga Berencana :
Masyarakat seluruh Indonesia terutama mereka berpasangan suami isteri/ keluarga baik di kota-kota maupun di desa-desa.
(c)    Tujuan Program Keluarga Berencana :
1.      Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat terutama anak, ibu dengan cara menjarangkan kelahiran
2.      Mengurangi laju pertambahan penduduk. Agar dapat seimbang antara pertambahan penduduk dan produksi nasional.
(d)   Usaha Program Keluarga Berencana
1.      Menjarangkan Kelahiran
2.      Pengobatan Kemandulan
3.      Nasihat Perkawinan
Dengan Program Keluarga Berencana  tersebut diharapkan agar Keluarga Berencana dapat membudaya bagi seluruh masyarakat Indonesia dengan mencintai keluarga kecil yang bahagia sejahtera. Yakni jumlah anak sekitar 3 orang. Untuk ini maka perlu meningkatkan Program Keluarga Berencana secara integral melalui berbagai pendidikan formal maupun nonformal, dan organisasi-organisasi baik pemerintah maupun swasta.
(5)   Pendidikan Kependudukan
Peningkatan dan perluasan Pendidikan Kependudukan dapat melalui berbagai lembaga Pendidikan Formal maupun Nonformal dengan menggunakan dan memanfaatkan secara efisien dan efektif semua jenis saluran komunikasi dan mass media yang ada.
Maksud pelaksanaan Pendidikan Kependudukan adalah agar masyarakat dapat mengubah cara berfikir dari cara berfikir tradisional statis menuju cara berfikir yang rasional dinamis dan bertanggung jawab terhadap besar kecilnya keluarga dalam memanfaatkan masa produktifnya yaitu dengan mencintai keluarga kecil yang bahagia, sejahtera, tidak mencintai keluarga besar yang tidak bahagia.
Tujuan dari Pelaksanaan Program Pendidikan Kependudukan, secara garis besar adalah agar masyarakat /anak didik dapat mengetahui factor-faktor yang menyebabkan pertumbuhan penduduk secara cepat, serta tepat, serta segala akibatbya maupun dapat menghubungkan antara pertumbuhan penduduk tersebut dengan program pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah dalam usaha mencapai kesejahteraan masyarakat. Maka mereka diharapkan dapat menyesuaikan hal itu dalam kehidupan keluarga  masyarakat bangsa dan manusia pada umumnya.
(6)   Migrasi (perpindahan penduduk)
Migrasi adalah gejala gerak  horizontal untuk pindah tempat tinggal dan pindahnya tidak terlalu dekat, melainkan melintasi batas administrasi, pindah ke unit administrasi lain.
Ross Steele menyatakan bahwa migrasi meliputi perpindahan ke rumah sebelah yang jarak beberapa meter dari rumah lama, tetapi mencangkup perpindahan ke Negara lain yang jaraknya beribu ribu meter kilometer (dalam Sunarto, 1985).
PBB juga menyatakan bahwa migrasi ialah suatu perpindahan tempat tinggal dari suatu administratif ke unti administratif lainnya (Sunarto 1985).
Di Indonesia konsep migrasi yang dipergunakan di antaranya yang dikemukakan oleh Biro Pusat Statistik dalam sensus penduduk tahun 1971 dan 1980. Migrasi dalam hal ini diartikan sebagai perpindahan  seseorang melewati batas provinsi lain dalam jangka waktu 6 bulan atau lebih. Namun demikian dijelaskan pula bahwa seseorang dikatakan telah melakukan migrasi apabila ia telah melakukan perpindahan kurang dari 6 bulan tetapi telah secara resmi pindah atau sebelumnya telah ada niatan untuk menetap di daerah tujuan.

Teori Migrasi
1)      Teori Gravitasi
Raavenstain pada tahun 1889 telah menguraikan pendapatnya tentang fenomena migrasi yang disusun dalam hokum-hukum migrasi yang terkenal sampai sekarang :
a)      Semakin jauh jarak, semakin berkurang volume migran. Disebut dengan nama “distancedecay theory”
b)      Setiap arus migran yang benar menghasilkan arus balik sebagai gantinya.
c)      Adanya perbedaan antara desa dengan kota yang menyebabkan timbulnya migrasi.
d)      Wanita cenderung bermigrasi ke daerah-daerah yang dekat letaknya.
e)      Kemajuan teknologi akan mengakibatkan intensitas migrasi.
f)       Motif utama migrasi adalah ekonomi.
2)      Teori Dorong – Tarik
Dikemukakan oleh Everett S. Lee pada tahun 1966. Dalam teorinya Lee mengemukakan adanya 4 faktor yang berpengaruh terhadap seseorang dalam mengambil keputusan dalam bermigrasi, yaitu :
a)      Faktor-faktor yang terdapat di daerah asal.
b)      Faktor-faktor yang terdapat di daerah tujuan.
c)      Faktor-faktor rintangan.
d)      Faktor Pribadi.

Jenis/Macam Migrasi
-          Antar Negara, disebut emigrasi atau imigrasi. Kalau keluar ke Negara lain disebut emigrasi, tetapi kalau masuk atau dating dari Negara lain disebut imigrasi.
-          Antar Daerah (dalam satu Negara), untuk ini apabila terjadi antara pulau dan akan bertempat tinggal lama disebut : Transmigrasi. Antara daerah (dalam satu pulau dari desa ke kota)disebut : Urbanisasi.
Tetapi apabila perpindahan tersebut hanya antara daerah kota yang agak berdekatan dan hanya untuk beberapa hari karena suatu sebab seperti berdagang, itu disebut Mobilisasi. Sebab-sebab perpindahan penduduk :
1)      Alasan ekonomi
2)      Alasan politik
3)      Alasan agama
8)      Perkembangan Penduduk :
a)      Bagi Negara yang sedang berkembang
Berhubung semakin tahun semakin besar tingkat kelahiran penduduk pada khususnya maka hal tersebut akan menimbulkan berbagai problema atau masalah penduduk. Hal ini terutama sangat dirasakan oleh Negara-negara yang sedang berkembang.
Masalah-masalah kependudukan tersebut antara lain :
(1)   Rendahnya income perkapita penduduk, karena belum semua sumber alam dapat diolah sendiri, dan belum semua penduduk mendapatkan lapangan pekerjaan.
(2)   Rendahnya tingkat pendidikan masyarakat, karena untuk penyelenggaraan pendidikan diperlukan biaya. Dalam hal ini pemerintah belum dapat mencukupi semua fasilitas pendidikan, baik gedung, guru-guru, alat-alat sekolah dan sebagainya.untuk ini perlu masyarakat berpartisipasi, padahal income perkapita masyarakat relative rendah maka tak semua orang tua dapat membiayai anak-anaknya.
(3)   Penyebaran penduduk yang tak merata. Untuk ini antara pulau yang satu dengan pulau yang lain tak sama padatnya. Kepadatan terasa pada daerah perkotaan dan daerah yang subur, untuk Indonesia kepadatan sangat terasa di Jawa dan Bali.
(4)   Temapt tinggal penduduk yang kurang memenuhi ukuran kehidupan yang layak dan higienis.
b)      Bagi Negara yang modern/maju
Masalah kependudukan yang timbul tersebut bagi berbagai golongan Negara adalah tidak sama. Contohnya :
Bagi Negara-negara yang sudah maju dengan berbagai teknologinya itu maka masalah kependudukan yang ditimbulkan antara lain :
(1)   Kurangnya tenaga kerja manusia
(2)   Rendahnya tingkat kelahiran dan sebagainya.
9)      Kebijaksanaan Pemerintah Terhadap Masalah Kependudukan
Dengan adanya berbagai masalah yang timbul dari perkembangan penduduk tersebut di atas, maka setiap pemerintah yang bertanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyatnya akan mengambil dan melakukan berbagai kebijaksanaan dalam hal tersebut.
Untuk kebijaksanaan-kebijaksanaan itu antara berbagai Negara dan berbagai golongan tingkatan perkembangan adalah tidak sama.
a)      Bagi Negara-negara yang sedang berkembang termasuk Indonesia kebijaksanaan ini pada umumnya disesuaikan dengan falsafat pandangan hidup dari pada bangsa di Negara itu sendiri.
Khususnya pada Negara-negara yang sedang berkembang melakukan kebijaksanaan dengan berbagai program, missal untuk Indonesia dengan melaksanakan :
(1)   Program Intensifikasi dan Ekstensifikasi Pertanian
(2)   Program Industrialisasi
(3)   Program Pendidikan kependudukan
(4)   Program Keluarga Berencana
(5)   Program Transmigrasi.
b)      Tiap Negara pada saat ini bekerja sama di dalam mengatasi masalah kependudukan yang pelaksanaannya menunjang kebijaksanaan kependudukan nasional.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Masala social menyangkut nilai-nilai social dan moral. Masalah tersebut meruakan persoalan karena menyangkut tata kelakuan yang inmoral, berlawanan dengan hokum dan bersifat merusak. Beberapa masalah social penting meliputi kemiskinan, kejahatan, kependudukan, masalah lingkungan hidup.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu. Ilmu Sosial Dasar. Jakarta : Rineka Cipta. 2009.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar