BAB I
PENDAHULUAN
Latar
Belakang
Masalah social muncul akibat
terjadinya perbedaan mencolok antara nilai dalam masyarakat dengan realita yang
ada. Yang dapat menjadi sumber masalah social yaitu seperti proses social dan
bencana alam. Adanya masalah social dalam masyarakat ditetapkan oleh lembaga
yang memiliki kewenangan khusus seperti tokoh masyarakat, pemerintah,
organisasi social, musyawarah masyarakat dan nilai sebagainya.
BAB II
ISI
Pembahasan
1.
Teori
Menurut Soerjono Soekanto (Lektor
Kepala Sosiologi dan Hukum Adat pada Fakultas Hukum Universitas Indonesia)
masalah social adalah suatu ketidaksesuaian antara unsur unsur kebudayaan atau
masyarakat, yang membahayakan kehidupan kelompok social. Jika terjadi bentrokan
antara unsur unsur yang ada dapat menimbulkan gangguan hubungan social seperti
kegoyahan dalam kehidupan kelompok atau masyarakat.
2.
Pertumbuhan
Penduduk dan Migrasi
TABEL I
PERKIRAAN DAN PROYEKSI PENDUDUK
DUNIA
|
TAHUN
|
JUMLAH
JIWA
|
|
8.000-7.000
SM
|
10
juta
|
|
1.
|
250juta
|
|
1650
|
500
juta
|
|
1800
|
900
juta
|
|
1850
|
1.000
juta
|
|
1900
|
1.500
juta
|
|
1930
|
2.000
juta
|
|
1950
|
2.500
juta
|
|
1960
|
3.000
juta
|
|
1970
|
3.600
juta
|
|
1980
|
4.600
juta
|
|
1990
|
5.700
juta
|
|
2000
|
6.500
juta
|
Sumber
: Buku Paket Latihan Pendidikan Kependudukan, DGI-BKKBN Jakarta 1982. H. 61.
a.
Penduduk
dunia dan masalahnya
Pada awal zaman
modern sampai kira kira tahun 1650, penduduk dunia telah mencapai 500 juta
jiwa. Sejak zaman inilah penduduk dunia terus meningkat dengan cepat. Hal itu
dimungkinkan oleh adanya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Termasuk salah
satu diantaranya ilmu kedokteran juga berkembang.
Berkat kemajuan ilmu
kedokteran, pemeliharaan kesehatan penduduk termasuk usaha-usaha imunitas
menjadi lebih terjamin. Oleh karena itu tingkat kematian bayi-bayi yang lahir
menjadi lebih rendah, sampai ia tumbuh subur dan akhirnya bersuami/beristri dan
mempunyai anak dan cucu.
Akan tetapi pada
kenyataannya tidak semua negara didunia mengalami pertumbuhan penduduk yang
begitu pesat.
Negara-negara Eropa
Barat pada abad 20 ini cenderung mengalami kondisi stasioner, bahkan Jerman
Barat cenderung memiliki lebih sedikit jumlah penduduk berumur muda,
dibandingkan dengan jumlah penduduk dewasa. Dengan begitu negara ini mempunyai
masalah penduduk bukan pertumbuhannya, tetapi, kekurangan penduduk berusia
mudasebagai generasi penerus. Kemungkinan menambah penduduk berusia muda
sebagai generasi penerus bagi negara-negara Eropa Barat khususnya, secara legal
dilakukan melalui adopsi anak/bayi. Kita sering mendengar praktek adopsi yang
tidak wajar bagi bayi-bayi Asia, tidak terkecuali bayi-bayi dari Indonesia.
Peluang untuk
mengadopsi anak-anak/bayi Asia disalahgunakan oleh sindikat gelap, laksana
zaman perbudakan,anak-anak/bayi itu diperjualbelikan.
b.
Pendidikan
dan Kesehatan di negara-negara berkembang
1)Pendidikan
Penduduk pedesaan,
terutama anak-anak usia sekolah di negara-negara berkembang di Afrika, Asia dan
Amerika Latin sebagian besar tidak memperoleh kesempatan menempuh jenjang
pendidikan di sekolah, akibat dari kondisi kemiskinannya.
Suatu
hasil survey UNICEF membuktikan bahwa 58%anak-anak pedesaan miskin di Delhi
India, tidak bersekolah karena orang tua mereka tidak mampu membayar biaya
sekolah, dan 31% terikat kerja rumah tangga, termasuk merawat adik yang masih
kecil. Hasil syrvey yang sama di kampung miskin di kota Madras India,
mengungkapkan bahwa 45% dari orang tua penghuni kampong miskin, menyatakan
bahwa anak-anaknya tidak bersekolah karena alasan tidak mampu membayar uang
sekolah; dan 20% lainnya karena anak-anak mereka harus menolong menyelesaikan
pekerjaan rumah.
Di
samping unsur tekanan ekonomi, penduduk pedesaan miskin paling sering
kekurangan bangunan sekolah dan guru yang memenuhi syarat. Bahkan yang lebih
tragis, desa itu tidak memiliki sekolah dasar.
Di
negara-negara berkembang terdapat variasi anak-anak usia sekolah yang mendapat
kesempatan dalam pendidikan formal. Di Honduras (Amerika Latin), 72% dari
anak-anak usia 7 sampai 14 tahun dapat bersekolah. Di Karachi (Pakistan) 50%
anak usia sekolah berumur antara 5-10 tahun terdaftar pada sekolah dasar,
persentase ini segera menurun menjadi 33% bagi kampong-kampung miskin.
Di
pedesaan sekitar Dakar ibukota Senegal(Afrika Barat), persentase kanak-kanak
untuk masuk sekolah dasarsebesar 38%. Sedangkan suatu studi di Abijan ibukota
Republik Pantai Gading (Afrika Barat) mencatat gradasi persentase anak-anak
sekolah bergantung pada fungsi pekerjaan ayah seorang anak. Semakin tinggi
status/jabatan pekerjaan semakin tinggi pula jumlah persentase anak-anak yang
masuk sekolah. Data lapangan menunjukkan 73% anak-anak usia sekolah berasal
dari kelompok ayah sebagai staf menengah; 43% berasal dari anak-anak pedagang;
27% lainnya berasal dari anak-anak petani.
2) Kesehatan
Penduduk
usia muda pada negara-negara amat sering kedapatan menderita kekurangan vitamin
A, kasus-kasus penderita kekurangan vitamin A yang menonjol, misalnya terjadi
pada anak-anak di negara-negara Asia Selatan, Asia Tenggara, seperti Birma,
Srilangka, India bagian selatan, Indonesia dan Malaysia. Penderita kebutaan dan
anemia pada tipe dan tingkatan tertentu.
Penyakit-penyakit
menular seperti tuberculosis, banyak menyerang penduduk di daerah pemukiman
kampong-kampung miskin di perkotaan, antara lain di Kalkuta (India) dan di
Ibadan di Nigeria bagian barat (Afrika Barat). Parasite-parasit usus penyebab
penyakit cacingan (Askaris) banyak diderita oleh anak-anak di perkampungan
miskin di Lagos (ibukota Nigeria). Laporan-laporan UNICEF juga mengungkapkan
bahwa penyakit poliomyelitis banyak diderita oleh anak-anak di Srilangka dan
Kenya (Afrika Timur). Sebanyak 58% dari anak-anak cacat di Kenya sebagai akibat
poliomyelitis, dimungkinkan oleh fasilitas injeksi yang tidak memadai.
Bersumber
dari pada konsultan kesehatan dari World Health Organization (WHO) di Zimbabwe
(Desember 1983) ditemukan kurang lebih sejuta penderita penyakit lepra atau
kusta di seluruh wilayah Zimbabwe. Penyakit itu menyerang penduduk pada usia
produktif, antara 8 sampai 40 tahun. Terdapat indikasi-indikasi bahwa penyakit
ini telah merambat pada anak-anak usia 7 tahun. Keistimewaan penyakit ini
penularannya tidak diketahui pasti. Baru ada tanda-tanda bisul kecil atau
koreng, biasanya pada kaki, pada saat itulah disadari oleh seseorang bahwa ia
telah terjangkit penyakit lepra atau kusta.
Beberapa
survey konsumsi makanan dilakukan di Asia menunjukkan bahwa pemakaian kalori
rata-rata penduduk berada di bawah tingkat yang dibutuhkan di beberapa negara.
Pemakaian protein total sangat rendah seperti yang dialami penduduk di India,
Malaysia, Pakistan, Filipina dan Thailand. Fakta-fakta di lapangan membuktikan
bahwa penduduk negara-negara berkembang kekurangan makanan berkadar protein
hewani. Salah satu sebab membuktikan bahwa di beberapa kalangan masyarakat
pedesaan masih berlaku “tabu” yang melarang memakan ikan, buah-buahan dan
sayur-mayur. Hal semacam itu berlaku di kalangan masyarakat di beberapa daerah
di Burma, Indonesia, Malaysia dan Filipina. Tabu dan pantangan seperti itu
berlaku dari kehamilan 7 bulan sampai 50 hari sesudah kelahiran. Resiko dari
melakukan tabu dan pantangan itu para ibu hamil harus menanggung kekurangan
protein hewani, dan boleh jadi akan melahirkan bayi-bayi cacat dari lahir atau
lahir dengan ketahanan tubuh yang rapuh. Laporan UNICEF tahun 1983
mengungkapkan bahwa hanya 1% saja dari anak-anak didunia yang tegas-tegas
kekurangan giziyang tidak ketahuan, justru terhadap mereka yang menderia kurang
gizi tidak ketahuan itu, sebagai penyebab mengapa mereka tidak dapat tertolong.
3) Perhatian para negarawan dan
ilmuwan terhadap masalah penduduk dunia
Para
negarawan dan ilmuwan sungguh sungguh meyadari dan telah memperhitungkan betapa
besar bencana yang ditimbulkan oleh ledakan penduduk dunia. Berdasarkan
estimasi perkembangan penduduk dunia yang sangat mencemaskan itu lahirlah
Kelompok Roma (Club of Rome). Siding pertama kalinya diselenggarakan di
Accademia dei Lincei di Roma, pada tahun 1968, atas undangan Kanselir Austria, sejalan dengan itu pada
tahun 1969, Sekretaris Jendral PBB (pada waktu itu U Than) menyatakan bahwa
bagi anggota PBB “barangkali hanya tinggal sepuluh tahun lagi untuk menekan
pertikaian-pertikaian lama mereka, serta melancarkan suatu kerja sama semesta
untuk mengekang perlombaan senjata, memperbaiki alam lingkungan manusia,
memadamkan eksplosi penduduk, dan memberi daya gerak yang diperlukan bagi
usaha-usaha pembangunan.” Sidang-sidang berikutnya : tahun 1970 di Swiss, tahun
1971 di Jouy, dekat Paris, Perancis dan bulan Oktober 1973 diselenggarakan di
Tokyo Jepang.
Kelompok
Roma melakukan studi internasional selama 18 bulan dengan biaya dari Yayasan Volkswagen di
Jerman. Tim Studi Internasional itu beranggotakan 17 orang, diketuai oleh Dr.
Dennis L. Meadow dari Massachusetts Institute of Technology (MIT). The Limits
to Growth (Batas-batas Akhir Pertumbuhan Dunia) merupakan gerakan tahap pertama
dari proyek internasional itu.
Metode kerjanya menggunakan jasa computer, yang
lebih dikenal dengan Model Dunia Promotif, adalah suatu model menurut Dynamica
System yang merupakan metode baru untuk memenuhi kelakuan dinamis dari
system-sistem yang kompleks. Pengetahuan bahwa struktur setiap system banyaknya
hubungan yang bersifat berputar, kait-mengkait.
Metodologi
system dinamik itu sebagai karya rintisan Prof. Jay Forrester dari MIT. Model
dunia ini secara khusus dibuat untuk mempelajari kelakuan kelima unsur dominan,
yaitu :
1) Penduduk yang makin bertambah
2) Makin pesat industrialisasi
3) Produk pertanian
4) Makin habis sumber-sumber alam
yang tak tergantikan
5) Dan makin rusak alam lingkungan,
serta mempelajari berbagai pengaruh timbal balik terhadap system dunia dalam
jangka panjang.
Dari studi tersebut
dapat diambil kesimpulan bahwa apabila kondisi-kondisi yang berlaku sekarang
ini dibiarkan kadaluarsa, maka dalam waktu 100 tahun saja, daya tahan dan
keseimbangan bumi kita akan mencapai batass kemampuan terakhir. Ini berarti
akan lumpuhlah system-system pendukung
dan pembangkit tatanan kehidupan di muka bumi ini.
4) Interaksi eksponensial dari
lima variable yang dominan
Kelima variable yang
dominan membuktikan saling mempengaruhi satu sama lain. Penduduk bertambah,
kebutuhan sandang pangan dan papan harus bertambah. Pengingkatan produksi
pangan akan berkait dengan penyediaan
lahan dan irigasi teknis yang memadai, disamping modal yang cukup.
Bumi kita mempunyai
kira-kira 3,2 milyar hektar tanah yang potensial baik untuk pertanian. Separuh
dari luas tanah itu yang paling subur dan paling mudah dijangkau oleh manusia
telah digarap secara turun menurun dan terus menerus. Semakin bertambah
manusia, cenderung makin berkurang lahan pertanian dan pemukiman, akan semakin
terasa pula “lapar lahan” baik untuk perumahan maupun kegiatan pertanian.
Diperkirakan pada
saat jumlah penduduk dunia menjadi dua kali lipat, akan dihadapi krisis
kekurangan tanah yang serius. Krisis kekurangan tanah pertanian tidaklah cukup
secara tiba-tiba, melainkan diawali dengan berbagai gejala sebelum kebutuhan
tanah pertanian melebihi dari cadangan tanah yang masih ada.
Krisis berikutnya
segera menyusul. Produksi pangan tidak mencukupi kebutuhan hidup manusia. Produksi
pangan seolah-olah tidak punya arti apa-apa, begitu muncul akan hilang
lenyap ditelan lautan manusia.
Harga-harga pangan akan melambung tinggi, sehingga pada saatnya terjadi bahaya kelaparan.
Dari segi lain,
akibat pertumbuhan penduduk eksponensial, lingkungan perkotaan mengalami
pencemaran cukup berat, bersumber dari knalpot-knalpot kendaraan bermotor yang
memuntahkan produk-produk karbon dioksida setiap saat. Pada sisi lain, penduduk
perkotaan juga diancam oleh membengkaknya polutan (Zat-zat pencemar yang
menimbulkan polusi), sampah, limbah industry dan limbah rumah tangga.
Kini ancaman polutan
bagi umat manusia yang sangat serius dating dari sampah-sampah organic.
Beberapa contoh akibat semakin banyak sampah organic dibuang diluar Baltik yang
kemudian membusuk , kadar zat asam di dalam air laut terus menerus berkurang.
Hal ini berakibat akan mematikan mahluk-mahluk hidup di laut, tidak terkecuali
ikan.
Pada dimensi lain,
akibat bertambahnya penduduk dunia yang diiringi dengan peningkatan taraf
hidup, memungkinkan segera meningkat pula kebutuhan akan sumber-sumber alam
berupa : hutan, air, mineral/barang tambang dan bahan galian sebagai bahan baku
industry alam lebih cepat terkuras. Satu contoh, betapa haus manusia akan
sumber-sumber alam, pada tahun 1950 penduduk Amerika Serikat mengkonsumsi7
bilyun kaki kubik gas alam. Pada tahun 1971 mereka melahap gas alam sebanyak 23
bilyun kaki kubik.
Berapa banyak
konsumsi BBM oleh umat manusia di dunia pada tahun 1983? Berapa banyak pula
konsumsi barang tambang dan bahan galian untuk memenuhi kebutuhan industry
setiap tahun? Tidak dapat disangkal lagi, memang cabang- cabang kehidupan di
bumi ini akan mempunyai batas akhir. Apalagi bila umat manusia lupa akan
sifat-sifat alami. Alpa untuk melestarikan lingkungannya, terutama hutan, air
dan tanah.
Andaikata kelima
variable pokok berkembang seterusnya dengan ukuran seperti selama 70 tahun
terakhir, apakah yang akan terjadi pada system dunia kita bila mencapai
batas-batas maksimumnya? Karena persediaan sumber-sumber alam yang tak
tergantikan sudah semakin habis, maka daya pikul dunia akan dilampaui, dan
terjadilah keruntuhan kehidupan di dunia.
c.
Usaha
mengatasi masalah penduduk dunia
Kenaikan pesat
jumlah penduduk dunia, terutama di negara-negara Asia, Afrika dan Amerika
Latin, mendorong usaha-usaha bersama negara-negara di dunia untuk segera
menentukan langkah-langkah kongkret dalam penanggulangan problem-problem
penduduk dunia.
Untuk mencapai suatu
ekosistem penduduk dunia yang stabil, diperlukan langkah-langkah sebagai
berikut :
1) Penduduk distabilisasi/diseimbangkan
2) Konsumsi sumber alam dan
pembangkit polusi harus dikurangi sampai seperempat dari tigkat konsumsi tahun
1970-an
3) Penyelenggaraan pendidikan dan
pengadaan fasilitas kesehatan lebih diutamakan.
Ada 4 macam teknik pelayanan
kesehatan, yaitu :
(1)
Mengikuti
pertumbuhan anak
(2)
Penggunaan
air susu ibu
(3)
Imunisasi
(4)
Pengobatan
Oral Rehydration Therapy (ORT)
4) Penekanan lebih besar diberikan
kepada produksi bahan pangan, sehingga akan cukup tersedia untuk memenuhi
kebutuhan setiap orang.
5) Prioritas besar diberikan kepada
usaha-usaha penyuburan dan perlindungan tanah untuk mencegah erosi
d.
Masalah
penduduk di Indonesia
Masalah penduduk
(Population Problem) merupakan masalah yang bersegi banyak, dan pemecahan
masalah itu tidak dapat dilakukan dengan cara
satu segi dan secara sesaat dengan cepat.
Masalah penduduk timbul
sebagai akibat dari perubahan penduduk, antara lain :
1) Pertambahan atau pengurangan
penduduk. Keduanya dapat mengakibatkan perubahan bahan dalam humas welfare dan
struktur penduduk
2) Kerapatan/kepadatan, dan
penyebaran penduduk, yang akan mempengaruhi tata ekonomi, tata pergaulan, tata
politik dan budaya masyarakat.
Pertumbuhan penduduk
satu belum merupakan masalah penduduk yang vital. Sebenarnya pertumbuhan
penduduk saja tidak akan menimbulkan
masalah penduduk, bilamana ini dapat ditimbangi penambahan kebutuhan hidup dan
penyebarannya yang merata. Justru pada kasus pada negara-negara tertentu.
Seperti Jerman, Prancis, setelah Perang Dunia II kurangnya penduduk merupakan
masalah sebab menimbulkan gejala semakin kurangnya tenaga kerja (man power).
Tetapi untuk negara-negara sedang
berkembang dan terbelakang, jumlah penduduk yang besar menjadi masalah.
Beberapa masalah
penduduk yang erat hubungannya dengan manusia dan lingkungan alam.
Untuk ini dapat kita
pelajari beberapa masalah kependudukan yang disebabkan karena :
1)
Rapat
Penduduk (Population Density)
Pengertian
untuk mengenai rapat penduduk ialah perbandingan antara jumlah orang dengan
tanah yang didiami/diolah dalam satuan luas.
Untuk
daerah rural(desa) satuan luas ini dinyatakan dalam satuan kilometer persegi
atau hectare. Sedangkan untuk daerah urban(kota), di mana orang sudah banyak
yang hidup dalam gedung bertingkat, satuan luas dinyatakan dalam meter persegi.
Kegunaan
mengetahui angka kerapatan penduduk adalah sebagai berikut :
a)
Untuk
mengetahui ada tidaknya gejala overpopulation.
b)
Untuk
mengetahui pusat-pusat aglomenrasi penduduk.
c)
Untuk
mengetahui penyebaran dan pusat-pusat kegiatan ekonomi maupun budaya.
2)
Penyebaran
penduduk (Population Distribution)
Tersebarnya
penduduk dalam beberapa wilayah sangat tergantung dari faktor-faktor : lokasi, iklim, sumber
alam kemudian transportasi dan sebagainya.
Di
Indonesia penyebaran penduduk tidak merata dan penyebaran yag tidak merata ini
menimbulkan masalah kelebihan, kekurangan penduduk untuk beberapa daerah
tertentu.
Untuk ini dapat kita lihat table
sebagai berikut :
TABEL 4
Jumlah
Penduduk, luas tanah dan kepadatan penduduk Indonesia menurut Sensus Penduduk
1971.
|
No
|
Daerah
|
Jumlah Penduduk (x1000)
|
Luas Tanah
|
Kepadatan
|
|
1
|
Jawa & Madura
|
76.103
|
134.703
|
565
|
|
2
|
Sumatera
|
20.813
|
541.174
|
38
|
|
3
|
Kalimantan
|
5.152
|
550.843
|
9
|
|
4
|
Sulawesi
|
8.535
|
227.654
|
37
|
|
5
|
Pulau-pulau lain
|
8.008
|
572.708
|
14
|
TABEL 5
Kepadatan
Penduduk Jawa, Luar Jawa dan Indonesia tahun 1973 dan 1978
|
Luas (1000 km2)
|
Penduduk 1973 (Juta)
|
Penduduk 1978 (Juta)
|
Kepadatan Penduduk 1973 per km2
|
Kepadatan Penduduk 1978 per km2
|
|
Jawa 135
|
80
|
89
|
594
|
660
|
|
Luar Jawa 1.892
|
46
|
53
|
24
|
28
|
|
Indonesia 2.027
|
126
|
142
|
62
|
70
|
|
|
|
|
|
|
3)
Kelebihan
Penduduk dan kekurangan Penduduk (Over Population dan Under Population)
Akibat
langsung dengan adanya kelebihan penduduk ialah timbulnya pengangguran. Di
daerah pedesaan di mana unsur gotong royong masih sangat kuat, maka adanya
pengangguran ini tidak Nampak, sehingga sering disebut pengangguran tidak
kentara (disyuised unemployment).
Akibat
tidak langsung dari hal ini adalah timbulnya kriminalitas. Sedang akibat dari
under population ialah kurangnya tenaga kerja di sektor-sektor yang sangat
memerlukan tenaga manusia misalnya pada saat akan diadakan ekstensifikasi
pertanian dan sebagainya.
4)
Masalah
Penduduk yang dihadapi oleh Negara yang sedang berkembang.
a)
Masalah
Kelebihan Penduduk
Dalam
kehidupan sehari-hari kita lebih banyak mempersoalkan masalah kelebihan
penduduk dari pada kekurangan penduduk. Hal ini disebabkan karena pada umumnya
negara-negara sedang berkembang dijatuhi dengan akibat yang langsung maupun
tidak langsung dengan adanya pertambahan penduduk yang cepat.
Untuk
ini ada dua macam kelebihan penduduk yang kita perlu ketahui, yaitu :
(1)
Kelebihan
penduduk yang absolut.
Yaitu apabila suatu daerah dalam
waktu tertentu, telah tidak dapat memberikan kebutuhan hidup kepada manusia
yang berdomisili di wilayah tersebut.
(2)
Kelebihan
penduduk yang relative.
Yaitu apabila suatu daerah dalam waktu
tertentu kebutuhan hidup yang ada sudah tidak sesuai lagi dengan tuntutan
kemajuan ekonomi dan perkembangan social.
Penggunaan
angka kerapatan penduduk sebagai ukuran ada tidaknya kelebihan penduduk. Sering
kita menggunakan angka kerapatan penduduk sebagai ukuran untuk mengetahui ada
tidaknya kelebihan penduduk. Hal yang demikian itu adalah tidak benar.
Di
daerah-daerah di mana penduduk masih melaksanakan shifting Cultivation
atau system lading; angka rapat penduduk maksimum 50/km2.
Ini
berarti apabila di daerah pertanian yang intensif, kerapatan penduduk 200/km2,
mungkin belum menimbukan masalah penduduk. Di Indonesia beberapa daerah telah
mengalami kelebihan penduduk, penduduk relative, seperti di Jawa dan Madura,
dengan angka kepadatan penduduk 447/km2. Sedang di luar Jawa dan
Madura beberapa daerah masih kekurangan penduduk seperti Kalimantan 9/km2,
Maluku ±11/km2 dan sebagainya.
b)
Masalah
Tingkat Pendidikan Masyarakat yang Relatif Rendah.
Mengingat
negara yang sedang berkembang sehingga untuk melaksanakan pembangunan dalam
segala bidang belum dapat berjalan dengan cepat, karena kekurangan modal maupun
tenaga-tenaga ahli atau terdidik. Akibatnya fasilitas secara kualitatif dalam
bidang pendidikan masih terbatas. Oleh karena itu masyarakat dalam mencapai
pendidikan yang tinggi pun masih sedikit sekali. Yang hal ini disebabkan antara
lain :
(a)
Kurangnya
fasilitas pendidikan dalam segala tingkatan dan di seluruh daerah
(b)
Pendapatan
perkapita penduduk yang masih rendah sehingga belum dapat memenuhi kebutuhan hidup
primer pada umumnya dan untuk biaya sekolah.
Tingkat Pendidikan yang dapat
dicapai oleh masyarakat Indonesia, dapat dilihat pada table berikut ini
TABEL
6
Penduduk
Indonesia, umur 10 tahun ke atas yang telah dapat mencapai tingkat
pendidikannya tahun 1971 (menurut sensus 1971)
|
No
|
Tingkat Pendidikan
|
Banyaknya (%)
|
|
1
|
Tidak Sekolah
|
41,01
|
|
2
|
Belum tamat SD
|
32,37
|
|
3
|
Sekolah Dasar
|
19,38
|
|
4
|
SLO (Umum + Kejurusan)
|
4,3
|
|
5
|
SLA (Umum + Kejurusan)
|
2,03
|
|
6
|
Akademi
|
0,17
|
|
7
|
Universitas
|
0,14
|
Sumber : Biro Pusat Statistik,
Jakarta.
Dari
table tersebut ternyata banyaknya penduduk yang masih buta huruf maupun putus
SD adalah besar prosentasenya. Oleh karenanya masalah pendidikan menjadi
masalah Nasional yang cukup gawat, di mana dikatakan bahwa tinggi rendahnya
tingkat pendidikan masyarakat menggambarkan tinggi rendahnya kemajuan bangsa.
5) Masalah Pendapatan atau Produksi
Perkapita dan Tinggi Pertumbuhan Penduduk.
TABEL
7
Produksi
Perkapita dan tingkat Pertambahan Penduduk di beberapa Negara Asia.
|
Negara
|
GNP.
Perkapita (US. Dollar)
|
Tingkat
Pertumbuhan Penduduk (%)
|
|
Jepang
|
1.190
|
1,1
|
|
Malaysia
|
330
|
3,5
|
|
Korea
Selatan
|
180
|
2,4
|
|
Pilipina
|
180
|
3,5
|
|
Srilangka
|
180
|
2,3
|
|
Thailand
|
150
|
3,1
|
|
Vietnam
Selatan
|
130
|
2,6
|
|
Kmer
|
120
|
2,2
|
|
Laos
|
100
|
2,4
|
|
Pakistan
|
100
|
2,1
|
|
India
|
100
|
2,5
|
|
Indonesia
|
100
|
2,5
|
|
China
|
90
|
1,8
|
|
Birma
|
70
|
2,2
|
Sumber
: Majalah Geres – FAO – Riview, Sept. Okt. 1972 Hal 10 – 11.
6)
Kebijaksanaan
Kependudukan
(1) Maksud diadakannya Kebijaksanaan
Kependudukan adalah untuk dapat lebih tercapainya kesejahteraan penduduk/masyarakat
dalam arti yang luas, terutama terjadinya keseimbangan antara jumlah penduduk
dengan hasil pembangunan baik melalui pertanian, industry, impor dan ekspor dan
sebagainya (pidato kenegaraan Presiden RI 16 Agustus 1969).
(2) Pengertian kebijaksanaan Penduduk
:
Pada
prinsipnya kebijaksanaan suatu Negara yang menyangkut kemakmuran penduduknya
dapat digolongkan dalam kebijaksanaan kependudukan.tetapi pada umumnya yang
dimaksud hanyalah kebinaan yang menyangkut perubahan kuantita dan kualita penduduk
pemancaran penduduk, atau jumlah jiwa dan pemukiman dalam hubungannya dengan
sumber-sumber yang tersedia setiap orang.
(3) Pelaksanaan Kebijakan
Kependudukan :
Dalam
melaksanakan kebijaksanaan kependudukan untuk penyelesaian masalah penduduk
dapat ditempuh beberapa usaha yang dapat dilaksanakan sendiri-sendiri
berturut-turut atau secara bermacam-macamsekaligus tergantung kepada keadaan
setempat.
Kebijaksanaan
kependudukan dinegara maju dan di Negara-negara bekembang, lihat buku
Pendidikan Kependudukan halaman 267-269.
Dalam
usaha mengimbangi pertambahan penduduk perlu hasil-hasil pertanian dan
peternakan dipelihara, dipertahankan dan ditambah, yang dapat dilaksanakan
dengan :
a) Preservasi : dalam hal ini
diusahakan agar kualitas dan kuantitas hasil bumi diperbaiki untuk masa-masa
yang akan dating.
b) Restorasi : agar berhasil, hasil
bumi dan ternak agar tetap tinggi perlu dipelihara sumber-sumber biotik dengan
mencegah penyakit-penyakit tanaman dan hewan.
c) Benefisiasi : sumber-sumber alam
tetap dipelihara kelangsungan fungsinya beserta perkembangannya, agar makin
banyak tenaga alam dapat dipergunakan dalam proses pembangunan.
d) Reklamasi : penambahan hasil
pertanian dapat dijalankan dengan mengubah tanah-tanah improduktif menjadi
produktif.
7)
Usaha-usaha
yang dilaksanakan Kebijaksanaan Kependudukan
(1) Usaha Ekstensifikasi dan
Intensifikasi Pertanian
a) Ekstensifikasi Pertanian L untuk
menambah hasil bumi, areal pertanian harus diperluas dengan jalan membuka hutan
atau mengeringkan rawa-rawa.
b) Intensifikasi Pertanian
Untuk
perbaikan-perbaikan dalam bidan bercocok tanam meliputi pemupukan, pengairan,
pemilihan bibit unggul, pembuatan teras sawah rotasi tanaman dan lain-lain,
dapat menambah kualitas dan kuantitas produksi pertanian. Intensifikasi ini
dilakukan pada daerah-daerah yang sudah tidak memungkinkan terjangkaunya
perluasan areal pertanian. Seperti di Indonesia antara lain Jawa, Madura dan
Bali.
(2) Transmigrasi
Pemindahan
penduduk daerah padat ke daerah yang tidak atau kurang padat dapat mengurangi
populations pressure di daerah pengirim, dan dapat menimbulkan daerah-daerah
pertanian baru di daerah yang menerima.
Untuk
di Indonesia, daerah-daerah yang padat penduduknya terutama di Jawa, Madura dan
Bali.
Sedang
daerah penerima :
Sumatera
: Rimbo Bujang, Sitiung dan sebagainya
Kalimantan
: Kalimantan Barat, Timur dan sebagainya
Sulawesi
: Sulawesi Tenggara dan pulau-pulau lainnya.
(3) Industrialisasi :
Industrialisasi
ini diusahakan agar kebutuhan penduduk dapat dilayani secukupnya dengan cepat
dan merata tetapi tidak mengurangi kualitas produk, sehingga dapat mengurangi
penderitaan penduduk, menaikkan taraf hidup mengurangi masalah-masalah social
ekonomi. Penyebaran Industrialisasi : pembangunan industry sebaiknya dapat
menyebar ke seluruh wilayah Indonesia sehingga dengan desentralisasi industri
ini akan mendorong pembangunan di masing-masing daerah.
(4) Keluarga Berencana :
Keluarga
Berencana telah diprogramkan oleh pemerintah Indonesia sejak tahun 1968 yang
secara efektif baru berjalan mulai tahun 1970.
(a) Sifat Pelaksanaan Program Keluarga
Berencana adalah sukarela bagi pengikut/pesertanya. Tidak boleh ada paksaan
dari Pemerintah maupun Petugas, sebab ini diselaraskan dengan Falsafah Bangsa
Indonesia yaitu Pancasila.
(b) Sarana Program Keluarga Berencana
:
Masyarakat
seluruh Indonesia terutama mereka berpasangan suami isteri/ keluarga baik di
kota-kota maupun di desa-desa.
(c) Tujuan Program Keluarga Berencana
:
1. Meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat terutama anak, ibu dengan cara menjarangkan kelahiran
2. Mengurangi laju pertambahan
penduduk. Agar dapat seimbang antara pertambahan penduduk dan produksi
nasional.
(d) Usaha Program Keluarga Berencana
1. Menjarangkan Kelahiran
2. Pengobatan Kemandulan
3.
Nasihat
Perkawinan
Dengan Program Keluarga
Berencana tersebut diharapkan agar
Keluarga Berencana dapat membudaya bagi seluruh masyarakat Indonesia dengan
mencintai keluarga kecil yang bahagia sejahtera. Yakni jumlah anak sekitar 3
orang. Untuk ini maka perlu meningkatkan Program Keluarga Berencana secara
integral melalui berbagai pendidikan formal maupun nonformal, dan
organisasi-organisasi baik pemerintah maupun swasta.
(5)
Pendidikan
Kependudukan
Peningkatan dan perluasan Pendidikan Kependudukan
dapat melalui berbagai lembaga Pendidikan Formal maupun Nonformal dengan menggunakan
dan memanfaatkan secara efisien dan efektif semua jenis saluran komunikasi dan
mass media yang ada.
Maksud pelaksanaan Pendidikan Kependudukan adalah
agar masyarakat dapat mengubah cara berfikir dari cara berfikir tradisional
statis menuju cara berfikir yang rasional dinamis dan bertanggung jawab
terhadap besar kecilnya keluarga dalam memanfaatkan masa produktifnya yaitu
dengan mencintai keluarga kecil yang bahagia, sejahtera, tidak mencintai
keluarga besar yang tidak bahagia.
Tujuan dari Pelaksanaan Program Pendidikan
Kependudukan, secara garis besar adalah agar masyarakat /anak didik dapat
mengetahui factor-faktor yang menyebabkan pertumbuhan penduduk secara cepat,
serta tepat, serta segala akibatbya maupun dapat menghubungkan antara pertumbuhan
penduduk tersebut dengan program pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah
dalam usaha mencapai kesejahteraan masyarakat. Maka mereka diharapkan dapat
menyesuaikan hal itu dalam kehidupan keluarga
masyarakat bangsa dan manusia pada umumnya.
(6) Migrasi (perpindahan penduduk)
Migrasi adalah gejala gerak horizontal untuk pindah tempat tinggal dan
pindahnya tidak terlalu dekat, melainkan melintasi batas administrasi, pindah
ke unit administrasi lain.
Ross Steele menyatakan bahwa migrasi meliputi
perpindahan ke rumah sebelah yang jarak beberapa meter dari rumah lama, tetapi
mencangkup perpindahan ke Negara lain yang jaraknya beribu ribu meter kilometer
(dalam Sunarto, 1985).
PBB juga menyatakan bahwa migrasi ialah suatu perpindahan
tempat tinggal dari suatu administratif ke unti administratif lainnya (Sunarto
1985).
Di Indonesia konsep migrasi yang dipergunakan di
antaranya yang dikemukakan oleh Biro Pusat Statistik dalam sensus penduduk
tahun 1971 dan 1980. Migrasi dalam hal ini diartikan sebagai perpindahan seseorang melewati batas provinsi lain dalam
jangka waktu 6 bulan atau lebih. Namun demikian dijelaskan pula bahwa seseorang
dikatakan telah melakukan migrasi apabila ia telah melakukan perpindahan kurang
dari 6 bulan tetapi telah secara resmi pindah atau sebelumnya telah ada niatan
untuk menetap di daerah tujuan.
Teori Migrasi
1) Teori Gravitasi
Raavenstain pada tahun 1889 telah menguraikan
pendapatnya tentang fenomena migrasi yang disusun dalam hokum-hukum migrasi
yang terkenal sampai sekarang :
a) Semakin jauh jarak, semakin
berkurang volume migran. Disebut dengan nama “distancedecay theory”
b) Setiap arus migran yang benar
menghasilkan arus balik sebagai gantinya.
c) Adanya perbedaan antara desa
dengan kota yang menyebabkan timbulnya migrasi.
d) Wanita cenderung bermigrasi ke
daerah-daerah yang dekat letaknya.
e) Kemajuan teknologi akan
mengakibatkan intensitas migrasi.
f) Motif utama migrasi adalah
ekonomi.
2) Teori Dorong – Tarik
Dikemukakan oleh Everett S. Lee pada tahun 1966.
Dalam teorinya Lee mengemukakan adanya 4 faktor yang berpengaruh terhadap
seseorang dalam mengambil keputusan dalam bermigrasi, yaitu :
a) Faktor-faktor yang terdapat di
daerah asal.
b) Faktor-faktor yang terdapat di
daerah tujuan.
c) Faktor-faktor rintangan.
d)
Faktor
Pribadi.
Jenis/Macam Migrasi
-
Antar
Negara, disebut emigrasi atau imigrasi. Kalau keluar ke Negara lain disebut
emigrasi, tetapi kalau masuk atau dating dari Negara lain disebut imigrasi.
-
Antar
Daerah (dalam satu Negara), untuk ini apabila terjadi antara pulau dan akan
bertempat tinggal lama disebut : Transmigrasi. Antara daerah (dalam satu pulau
dari desa ke kota)disebut : Urbanisasi.
Tetapi apabila perpindahan
tersebut hanya antara daerah kota yang agak berdekatan dan hanya untuk beberapa
hari karena suatu sebab seperti berdagang, itu disebut Mobilisasi. Sebab-sebab
perpindahan penduduk :
1)
Alasan
ekonomi
2) Alasan politik
3) Alasan agama
8)
Perkembangan
Penduduk :
a) Bagi Negara yang sedang
berkembang
Berhubung semakin tahun semakin besar tingkat
kelahiran penduduk pada khususnya maka hal tersebut akan menimbulkan berbagai
problema atau masalah penduduk. Hal ini terutama sangat dirasakan oleh
Negara-negara yang sedang berkembang.
Masalah-masalah kependudukan tersebut antara lain :
(1) Rendahnya income perkapita
penduduk, karena belum semua sumber alam dapat diolah sendiri, dan belum semua
penduduk mendapatkan lapangan pekerjaan.
(2) Rendahnya tingkat pendidikan
masyarakat, karena untuk penyelenggaraan pendidikan diperlukan biaya. Dalam hal
ini pemerintah belum dapat mencukupi semua fasilitas pendidikan, baik gedung,
guru-guru, alat-alat sekolah dan sebagainya.untuk ini perlu masyarakat
berpartisipasi, padahal income perkapita masyarakat relative rendah maka tak
semua orang tua dapat membiayai anak-anaknya.
(3) Penyebaran penduduk yang tak
merata. Untuk ini antara pulau yang satu dengan pulau yang lain tak sama
padatnya. Kepadatan terasa pada daerah perkotaan dan daerah yang subur, untuk
Indonesia kepadatan sangat terasa di Jawa dan Bali.
(4) Temapt tinggal penduduk yang
kurang memenuhi ukuran kehidupan yang layak dan higienis.
b) Bagi Negara yang modern/maju
Masalah kependudukan yang timbul tersebut bagi
berbagai golongan Negara adalah tidak sama. Contohnya :
Bagi Negara-negara yang sudah maju dengan berbagai
teknologinya itu maka masalah kependudukan yang ditimbulkan antara lain :
(1) Kurangnya tenaga kerja manusia
(2) Rendahnya tingkat kelahiran dan
sebagainya.
9)
Kebijaksanaan
Pemerintah Terhadap Masalah Kependudukan
Dengan adanya berbagai masalah
yang timbul dari perkembangan penduduk tersebut di atas, maka setiap pemerintah
yang bertanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyatnya akan mengambil dan
melakukan berbagai kebijaksanaan dalam hal tersebut.
Untuk kebijaksanaan-kebijaksanaan
itu antara berbagai Negara dan berbagai golongan tingkatan perkembangan adalah
tidak sama.
a) Bagi Negara-negara yang sedang
berkembang termasuk Indonesia kebijaksanaan ini pada umumnya disesuaikan dengan
falsafat pandangan hidup dari pada bangsa di Negara itu sendiri.
Khususnya pada Negara-negara yang sedang berkembang
melakukan kebijaksanaan dengan berbagai program, missal untuk Indonesia dengan
melaksanakan :
(1) Program Intensifikasi dan
Ekstensifikasi Pertanian
(2) Program Industrialisasi
(3) Program Pendidikan kependudukan
(4) Program Keluarga Berencana
(5) Program Transmigrasi.
b)
Tiap
Negara pada saat ini bekerja sama di dalam mengatasi masalah kependudukan yang
pelaksanaannya menunjang kebijaksanaan kependudukan nasional.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Masala social menyangkut
nilai-nilai social dan moral. Masalah tersebut meruakan persoalan karena
menyangkut tata kelakuan yang inmoral, berlawanan dengan hokum dan bersifat
merusak. Beberapa masalah social penting meliputi kemiskinan, kejahatan,
kependudukan, masalah lingkungan hidup.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu. Ilmu Sosial Dasar. Jakarta : Rineka Cipta. 2009.