Sabtu, 17 Januari 2015

Ilmu Sosial Dasar - Individu, Keluarga dan Masyarakat

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sebagai seorang manusia hendaknya kita mengetahui bahwa Tuhan Yang Maha Esa menciptakan mahluk-mahluknya untuk saling membantu. Oleh karena itu kita mencoba untuk mengingatkan kembali akan pentingnya bermasyarakat karena manusia adalah mahluk social. Manusia sebagai mahluk individu, keluarga dan masyarakat oleh karenanya manusia dapat dikatakan sebagai mahluk social yang selalu hidup berkelompok dan membutuhkan orang lain. Masyarakat merupakan wadah berkumpulnya individu-individu yang hidup secara social. Masyarakat terdiri dari “saya”, “anda” dan “mereka” yang  memiliki kehendak dan keinginan hidup bersama. Kita tahu dan menyadari bahwa manusia sebagai individu dan mahluk social serta memahami tugas dan kewajibannya dalam setiap tatanan kehidupan berkelompok dan dalam struktur dan system social yang ada.

BAB II
ISI
Pembahasan
1.      PERTUMBUHAN INDIVIDU
a.       Pengertian Individu
“Individu” berasal dari kata latin, “individuum” artinya “yang tak terbagi”. Jadi, merupakan suatu sebutan yang dapat dipakai untuk menyatakan suatu kesatuan yang paling kecil dan terbatas. Dalam ilmu social, individu menekankan penyelidikan kepada kenyataan-kenyataan hidup yang istimewa, yang tidak seberapa mempengaruhi kehidupan manusia.
Individu bukan berarti manusia sebagi suatu keseluruhan yang tak dapat dibagi, melainkan sebagai kesatuan yang terbatas, yaitu sebagai manusia perseorangan. Dengan demikian sering digunakan sebutan “orang-seorang” atau “manusia perseorangan”. Sifat dan fungsi orang-orang di sekitar kita adalah mahluk-mahluk yang agak berdiri sendiri; dalam pelbagai hal bersama-sama satu sama lain,tetapi dalam banyak hal banyak pula perbedaannya. Sejenis tapi tak sama, makin tua semakin maju dan semakin banyak pula perbedaannya. Pada setiap anggota suatu bangsa yang bermacam-macam tingkat peradabannya, terjadi diferensiasi dengan corak sifat dan tabiat beraneka macam.
Timbulnya diferensiasi bukan hanya pembawaan, tetapi melalui kaitan dengan dunia yang telah mempunyai sejarah dengan peradabannya. Hal ini memberikan keuntungan rohani bagi individu seperti bahasa, agama, adat istiadat dan kebiasaan, paham-paham hukum, ilmu pengetahuan dan sebagainya. Semuanya telah ditata dan dipakai oleh generasi sebelumnya. Akan tetapi, betapapun besarnya pengaruh lingkungan social terhadap individu, manusia tetap memiliki watak dan sifat tertentu, yang aktif di tengah-tengah sesame manusia lainnya.
Individu adalah seorang manusia yang tidak hanya memiliki peranan khas di dalam lingkungan sosialnya, melainkan juga mempunyai kepribadian serta pola tingkah laku spesifik dirinya. Individu dalam bertingkah laku menurut pola pribadinya ada tiga kemungkinan : menyimpang dari norma kolektif kehilangan individualitasnya atau takluk terhadap kolektif, dan mempengaruhi masyarakat seperti adanya tokoh pahlawan atau pengacau. Mencari titik optimum antara dua pola tingkah laku (sebagai individu dan sebagai anggota masyarakat) dalam situasi yang senantiasa berubah, memberi konotasi “matang” atau “dewasa” dalam konteks social. Sebelum “baik” atau “tidak baik” pengaruh individu terhadap masyarakatadalah latif. Ir. M. Munandar Soelaeman, Ilmu Sosial Dasar Teori dan Konsep Ilmu Sosial, Edisi Revisi, PT. Eresco, Bandung, hal.55
b.      Pengertian Pertumbuhan
Walaupun terdapatnya perbedaan antara para ahli, namun diakui bahwa pertumbuhan itu adalah suatu perubahan yang menuju kea rah yang lebij maju dan lebih dewasa. Perubahan ini pada lazimnya disebut dengan istilah proses. Untuk selanjutnya timbul beberapa pendapat mengenai pertumbuhan dari berbagai aliran yaitu asosiasi, aliran psycologi Gestalt dan aliran Sosiologi.
Menurut para ahli yang menganut aliran asosiasi berpendapat bahwa pertumbuhan pada dasarnya adalah proses asosiasi. Pada proses asosiasi yang primer adalah bagian-bagian. Bagian-bagian yang ada lebih dahulu, sedang keseluruhan ada pada kemudian. Bagian-bagian ini terikat satu sama lain menjadi keseluruhan oleh asosiasi. Dapat dirumuskan suatu pengertian tentang proses asosiasi yaitu terjadinya perubahan pada seseorang secara tahap demi tahap karena pengaruh baik dari pengalaman atau empiri luar melalui panca indra yang menimbulkan sensations maupun pengalaman dalam mengenai keadaan batin sendiri yang menimbulkan reflexions. Kedua macam kesan (sensation dan reflexion) merupakan pengertian yang sederhana yang kemudian dengan proses asosiasi membentuk pengertian yang lebih kompleks.
Lain halnya dengan pendapat dari aliran psikologis Gestalt tentang pertumbuhan. Menurut para ahli dan aliran ini bahwa pertumbuhan adalah proses diferensiasi. Dalam proses diferensiasi yang pokok adalah keseluruhan, sedang bagian-bagian hanya mempunyai arti sebagai bagian dari keseluruhan dalam hubungan fungsional dengan bagian-bagian yang lain. Jadi menurut proses ini keseluruhan yang lebih dahulu ada, baru kemudian menyusul bagian-bagiannya. Jadi dari pendapat aliran psikologis Gestalt ini dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan itu adalah proses perubahan secara perlahan-lahan pada manusia dalam mengenal suatu yang semula mengenal sesuatu secara keseluruhan baru kemudian mengenal bagian-bagian dari lingkungan yang ada.
Kemudian kita mengenal konsepsi aliran sosiologi di mana ahli dari pengikut aliran ini menganggap bahwa pertumbuhan itu adalah proses sosialisasi yaitu proses perubahan dari sifat mula-mula yang asocial atau juga sosial kemudian tahap demi tahap disosialisasikan.
c.       Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan
a)      Pendirian nativistik
Menurut para ahli dari golongan ini berpendapat bahwa pertumbuhan individu itu semata-mata ditentukan oleh faktor-faktor yang dibawa sejak lahir. Para ahli ini menunjukkan berbagai kesempatan atau kemiripan antara orang tua dengan anaknya. Misalnya seorang ayah memiliki keahlian di bidan seni lukis maka kemungkinan besar anaknya juga manjadi pelukis. Tetapi hal ini akan menimbulkan keragu-raguan apakah kesamaan yang ada antara orang tua dengan anaknya benar-benar disebabkan oleh pembawaan sejak lahir ataukah mungkin karena adanya fasilitas-fasilitas atau hal-hal lain yang dapat memberikan dorongan ke arah kemajuannya.
b)      Pendirian Emperistik dan Environmentalistik
Pendirian ini menolak dasar dalam pertumbuhan individu dan lebih menekankan pada lingkungan dan konsekuensinya hanya lingkunganlah yang banyak dibicarakan. Pendirian macam ini biasa disebut pendirian yang environmentalistik. Sehingga dapat dikatakan bahwa pendirian ini pada hakikatnya adalah kelanjutan dari faham emperisme.
Menurut faham ini di dalam pertumbuhan individu itu baik dasar maupun lingkungan keduanya memegang peranan penting. Bakat atau dasar sebagai kemungkinan ada pada masing-masing individu namun bakat dan dasar yang dipunyai itu perlu diserasikan dengan lingkungan yang dapat tumbuh dengan baik. Di samping harus adanya dasar, juga perlu dipertimbangkan masalah kematangan (readiness), misalnya anak yang normal berusia enam bulan, walaupun anak tersebut hidup di antara manusia-manusia lain ada kemungkinan juga anak itu tak akan dapat berjalan karena belum matang untuk melakukan hal itu.

c)      Pendirian Konvergensi dan Interaksionisme
Kebanyakan para ahli mengikuti pendirian Konvergensi dengan modifikasi seperlunya. Suatu modifikasi yang terkenal yang sering dianggap sebagai perkembangan lebih jauh konsepsi konvergensi ialah konsepsi interaksionisme yang berpandangan dinamis yang menyatakan bahwa interaksi antara dasar dan lingkungan dapat menentukan pertumbuhan individu. Nampak lain dengan konsepsi konvergensi yang berpandangan statis yaitu menganggap pertumbuhan individu itu ditentukan oleh dasar(bakat) dan lingkungan.
d)      Tahap pertumbuhan individu berdasar psikologi
Pertumbuhan individu sejak lahir sampai masa dewasa atau masa kematangan itu melalui beberapa fase sebagai berikut :
a)      Masa vital yaitu dari 0,0 sampai kira-kira 2,0 tahun.
b)      Masa estetik dari umur kira-kira 2,0 tahun sampai kira-kira 7,0 tahun.
c)      Masa intelektual dari kira-kira umur 7,0 tahun sampai kira-kira umur 13,0 tahun atau 14,0 tahun.
d)      Masa social, kira-kira umur 13,0 tahun atau 14,0 tahun sampai kira-kira umur 20,0 tahun atau 21,0 tahun.
(a)    Masa Vital
Pada masa ini individu menggunakan fungsi-fungsi biologis untuk menemukan berbagai hal dalam dunianya. Menurut Freud tahun pertama dalam kehidupan individu itu sebagai masa oral, karena mulut dipandang sebagai sumber kenikmatan dan ketidaknikmatan. Pada tahun kedua anak belajar berjalan, dan dengan berjalan itu anak mulai pula belajar menguasai ruang. Di samping itu terjadi pembiasaan tahu akan kebersihan. Melalui tahu akan kebersihan itu anak belajar mengontrol impuls-impuls yang dating dari dalam dirinya.
(b)   Masa Estetik
Masa ini dianggap sebagai masa pertumbuhan rasa keindahan. Sebenarnya kata estetik diartikan bahwa pada masa ini pertumbuhan anak yang terutama adalah fungsi panca indra. Dalam masa ini pula tampak munculnya gejala kenakalan yang umumnya terjadi antara umur 3,0 tahun samapi umur 5,0 tahun. Anak sering menentang kehendak orang tua, kadang-kadang menggunakan kata kasar, dengan sengaja melarang apa yang dilarang dan tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan.
(c)    Masa Intelektual (masa keserasian bersekolah)
Ada beberapa sifat khas pada anak-anak pada masa ini antara lain :
1)      Adanya korelasi positif yang tinggi antara keadaan jasmani dengan prestasi sekolah.
2)      Sikap tunduk kepada peraturan-peraturan, permainan yang tradisional.
3)      Adanya kecenderungan memuji diri sendiri.
4)      Kalau tidak dapat menyelesaikan sesuatu soal makan soal itu dianggap tidak penting.
5)      Senang membanding-bandingkan dirinya dengan anak lain, bila hal itu menguntungkan, dalam hubungan ini ada kecenderungan untuk meremehkan anak lain.
6)      Adanya minat kepada kehidupan praktis sehari-hari yang kongkrit.
7)      Amat realistic, ingin tahu, ingin belajar.
8)      Gemar membentuk kelompok sebaya, biasanya untuk dapat bermain bersama-sma. Di dalam permainan ada kecenderungan anak tidak lagi terikat kepada aturan permainan tradisional, mereka membuat aturan-aturan sendiri, setelah anak memasuki masa kelas-kelas tinggi sekolah dasar.
Masa keserasian bersekolah diakhiri dengan suatu masa pueral. Masa ini demikian khasnya sehingga menarik perhatian. Sifat-sifat khas anak-anak masa pueral itu dapat diringkas kedalam dua hal yaitu :
1)      Ditujukan untuk berkuasa yang menimbulkan tngkah laku dan perbuatan yang ditujukan berkuasa; apa yang diinginkan, yang dijadikan idam-idaman adalah sekuat, sejujur semenang dan seterusnya.
2)      Tingkah laku ekstrovers yaitu perbuatan yang berorientasi ke luar dirinya, yang dapat mendorong untuk menyaksikan keadaan-keadaan dunia di luar dirinya dan untuk mencari teman sebaya untuk memenuhi kebutuhan psikisnya. Pada mereka dorongan bersaing besar  sekali sehingga dalam persaingan itulah anak-anak puer mendapatkan sosialisasi lebih lanjut.
(d)   Masa Remaja
Merupakan masa yang banyak menarik perhatian masyarakat karena mempunyai sifat-sifat khas dan yang menentukan dalam kehidupan individu dalam masyarakatnya. Karena manusia dewasa harus hidup dalam alam kultur dan harus dapat menempatkan dirinya di antara nilai-nilai (kultur) itu makan perlu mengenal dirinya sebagai  pendukung maupun pelaksana nilai-nilai. Untuk itu inilah maka ia harus mengarahkan dirinya agar dapat menemukan diri, meneliti sikap hidup yang lama dan mencoba-coba yang baru  agar dapat menjadi pribadi yang dewasa. Pada dasarnya ini masih dirinci ke dalam beberapa masa, yaitu :
1)      Masa Pra Remaja
Masa ini ditandai oleh sifat-sifat negative sehingga disebut juga masa negative. Pada masa ini tedapat beberapa gejala yang dianggap sebagai  gejala negative misalnya tidak tenang , kurang suka bekerja,kurang suka bergerak, lekas lelah, kebutuhan untuk tidur besar, hati sering murung, pesimistik dan non social. Atau dapat dikatakan secara ringkasnya sifat-sifat negative meliputi sikap negative dalam prestasi, baik prestasi jasmani maupun prestasi mental. Negative dalam sikap social baik dalam bentuk pasif maupun dalam bentuk agresif terhadap masyarakat. Terjadinya gejala negative itu pada umumnya berpangkal pada biologis yaitu mulai bekerjanya kelenjar-kelenjar kelamin,yang dapat membawa perubahan-perubahan cepat dalam diri si remaja yang seringkali perubahan-perubahan yang cepat ini belum mereka fahami sehingga dapat menimbulkan rasa ragu-ragu, kurang pasti dan bersifat pemalu.
2)      Masa Remaja
Sebagai gejala pada masa ini adalah merindu puja. Dalam fase ini untuk pertama kalinya remaja sadar akan kesepian yang tidak pernah dialaminya pada masa-masa sebelumnya. Sebagai reaksi pertama-tama terhadap gangguan ketenangan dan keamanan batinnya adalah protes terhadap sekitarnya yang dirasanya tiba-tiba bersikap menterlantarkan dan memusuhinya. Sebagai tingkah berikutnya ialah kebutuhan akan teman yang dapat memahami dan menolongnya serta yang dapat merasakan suka dan dukanya. Di sinilah mulai timbul dalam diri remaja itu dorongan untuk mencari pedoman hidup yaitu mencari sesuatu yang dapat dipandang  bernilai, pantas dijunjung tinggi, dan dipuja-puja. Pada masa remaja ini mereka mengalami kegoncangan batin, sebab pada masa ini mereka sudah tidak mau memakai pedoman hidup kekanak-kanakan, tetapi juga belum mempunyai pedoman hidup yang baru.
3)      Masa Usia Mahasiswa
Masa umur mahasiswa dapat digolongkan pemuda-pemuda yang berusia sekitar 18,0 tahun sampai 30,0 tahun. Mereka dapat dikelompokkan pada masa remaja akhir sampai dewasa awal atau dewasa madya. Pada masa usia mahasiswa banyak peristiwa-peristiwa yang perlu untuk diperhatikan, antara lain : bila dilihat dari segi pertumbuhan, tugas perkembangan pada usia mahasiswa ini adalah pemantapan pendirian hidup, yaitu pengujian lebih lanjut pendirian hidup serta penyiapan diri dengan ketrampilan dan kemampuan-kemampuan yang digunakan untuk merealisasikan pendirian hidup yang telah dipilihnya. Mahasiswa akan mengalami perubahan secara perlahan demi sikap hidup yang idealistic ke sikap hidup yang realistic. Dengan demikian keinginan-keinginan yang kurang realistic dalam dirinya dan realitas dalam ligkungannya telah diganti dengan yang lebih mendasar kepada realistis.

Dengan uraian-uraian ini diharapkan adanya suatu pemahaman mengenai manusia sebagai individu. “Manusia merupakan mahluk individual tidak hanya dalam arti mahluk keseluruhan jiwa raga, melainkan juga dalam arti  bahwa tiap-tiap itu merupakan pribadi yang khas, menurut corak kepribadian, termasuk kecakapannya sendiri.”(Dr. W.A. Gerungan, Op-cit, halaman 27.)
Individu tidak akan jelas identitasnya tanpa adanya suatu masyarakat yang menjadi latar keberadaannya. Karena dari sinilah kita akan baru bias memahami seorang individu seperti kata Johnson. “…..person are what they are always in social context…..the solitary person is unreal, abstract, artificial, abnormal……”
Manusia sebagai individu selali berada di tengah-tengah kelompok individu yang sekaligus mematangkannya untuk menjadi pribadi. Proses dari individu untuk menjadi pribadi, tidak hanya didukung dan dihambat oleh dirinya, tetapi juga didukung dan dihambat oleh kelompok sekitarnya.(Nursid Sumaatmaja, Pengantar Studio Sosial, Penerbit, Alumni, Bandung, 1981.)

2.      FUNGSI-FUNGSI KELUARGA
Keluarga adalah unti satuan masyarakat yang terkecil dan sekaligus merupakan suatu kelompok kecil dalam masyarakat. Kelompok ini, dalam hubungannya dalam perkembangan individu, sering dikenal dengan sebutan primary group. Kelompok inilah yang melahirkan individu dengan berbagai macam bentuk kepribadiannya dalam masyarakat. Keluarga sudah sering kali terlihat kehilangan peranannya. Oleh karena itu adalah bijaksana kalu dilihat dan dikembalikan peranan keluarga dan proporsi yang sebenarnya dengan skala prioritas yang pas. Keluarga pada umumnya, diketahui terdiri dari seorang individu (suami) individu lainnya (istri) yang selalu berusaha menjaga rasa aman dan ketentraman ketika menghadapi segala suka duka hidup dalam eratnya arti ikatan luhur hidup bersama.
Keluarga biasanya terdiri dari suami, isteri dan anak-anaknya. Anak-anak inilah yag nantinya berkembang dan mulai bisa melihat dan mengenal arti dari diri sendiri, dan kemudian belajar dari pengenalan itu. Apa yang dilihatnya, pada akhirnya akan memberikan suatu pengalaman individual. Dari sini ia mulai dikenal sebagai individu. Individu ini pada tahap selanjutnya mulai merasakan bahwa telah ada individu-individu lainnya yang berhubungan secara fungsional. Individu-individu tersebut adalah keluarganya yang memelihara cara pandang dan cara menghadapi masalah-masalahnya, membinanya dengan cara menelusuri dan meramalkan hari esoknya, mempersiapkan pendidikan, keterampilan dan budi pekertinya.akhurnya keluarga menjadi semacam model untuk mengidentifikasikan sebagai keluarga yang broken home, moderate dan keluarga sukses.
Keluarga sebagai kelompok pertama yang dikenal individu sangat berpengaruh secara langsung terhadap perkembangan individu sebelum maupun sesudah terjun langsung secara individual di masyarakat.
a.       Pengertian Fungsi Keluarga
Dalam kehidupan keluarga sering kita jumpai adanya pekerjaan-pekerjaan yang harus dilakukan. Suatu pekerjaan atau tugas yang harus dilakukan itu biasa disebut fungsi. Fungsi keluarga adalah suatu pekerjaan-pekerjaan atau tugas-tugas yang harus dilaksanakan di dalam atau oleh keluarga itu.
b.      Macam-macam Fungsi Keluarga
Pekerjaan-pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh keluarga itu dapat digolongkan/dirinci kedalam beberapa fungsi, yaitu :
a)      Fungsi biologis, dengan fungsi ini diharapkan agar keluarga dapat menyelenggarakan persiapan-persiapan perkawinan bagi anak-anaknya. Karena dengan perkawinan akan terjadi proses kelangsungan keturunan. Dan setiap manusia pada hakikatnya terdapat semacam kebutuhan biologis bagi kelangsungan hidup keturunannya, melalui perkawinan.
b)      Fungsi pemeliharaan, keluarga diwajibkan untuk berusaha agar setiap anggotanya dapat terlindung dari gangguan udara dengan berusaha menyediakan rumah, gangguan penyakit dengan berusaha menyediakan obat-obatan, gangguan bahaya dengan berusaha menyediakan senjata pagar tembok dll. Bila dalam keluarga fungsi ini telah dijalankan dengan sebaik-baiknya sudah barang tentu akan membantu terpeliharanya keamanan dalam masyarakat pula. Sehingga terwujud suatu masyarakat yang terlepas dari segala gangguan apa pun yang terjadi.
c)      Fungsi ekonomi, keluarga berusaha menyelenggarakan kebutuhan manusia yang pokok yaitu kebutuhan makan dan minum, kebutuhan pakaian untuk menutupi tubuh dan kebutuhan tempat tinggal. Berhubung dengan fungsi penyelenggaraan kebutuhan pokok ini maka orang tua diwajibkan untuk berusaha keras agar supaya setiap anggota keluarga dapat cukup makan dan minum, cukup pakaian serta tempat tinggal. Sehubungan dengan fungsi ini keluarga juga berusaha melengkapi kebutuhan jasmani yang sifatnya umum dan individual. Yang sifaynya umum misalnya meja, kursi, tempat tidur, lampu dll sedangkan yang bersifat individual  seperti alat-alat sekolah, pakaian, perhiasan dll.
d)      Fungsi keagamaan, di Negara Indonesia berideologi Pancasila berkewajiban kepada setiap warganya untuk menghayati, mendalami dan mengamalkan Pancasila di dalam perilaku dan kehidupan keluarganya sehingga benar-benar diamalkan P4 ini dalam kehidupan keluarga yang Pancasila. Dengan dasar pedoman ini keluarga diwajibkan untuk menjalani dan mendalami serta mengamalkan ajaran-ajaran agama dalam pelakunya sebagai manusia yang takwa dengan Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian akan tercermin bentuk masyarakat yang Pancasila apabila semua keluarga menjalankan p4 dan fungsi keluarga ini.
e)      Fungsi social, dengan fungsi ini keluarga berusaha untuk mempersiapkan anak-anaknya bekal-bekal selengkapnya dengan memperkenalkan nilai-nilai  dan sikap-sikap yang dianut oleh masyarakat serta mempelajari peranan-peranan yang diharapkan akan mereka jalankan kelak bila sudah dewasa. Dengan demikian terjadi apa yang disebut dengan istilah sosialisasi. Dengan fungsi ini diharapkan agar di dalam keluarga selalu terjadi pewarisan kebudayaan atau nilai-nilai kebudayaan. Dengan melalui nasihat dan larangan, orang tua menyampaikan norma-norma hidup tertentu dalam bertingkah laku. Dalam buku Ilmu Sosial Dasar karangan Drs. Soewaryo Wangsanegara dikatakan bahwa fungsi-fungsi keluarga meliputi pembentukan kepribadian, erat kaitannya dengan butir a, keluarga merupakan eksponen dari kebudayaan masyarakat karena menempatkan posisi kunci, sebagai lembaga perkumpulan perekonomian dan berfungsi sebagai pusat pengasuhan dan pendidikan.

3.      INDIVIDU, KELUARGA DAN MASYARAKAT
1)      Pengertian Individu
Individu berasal dari kata latin, “individuum” yang artinya yang tak terbagi. Kata individu merupakan sebutan yang dapat untuk menyatakan suatu kesatuan yang paling kecil dan terbatas. Kata individu bukan berarti manusia sebagai suatu keseluruhan yang tak dapat dibagi melainkan sebagai kesatuan yang terbatas yaitu sebagai manusia perorangan, demikian pendapat Dr. A. Lysen.
2)      Pengertian Keluarga
Menurut Sigmund Freud keluarga itu terbentuk karena adanya perkawinan pria dan wanita, sehingga keluarga itu merupakan perwujudan dorongan-doronga seksual. Sedangkan  menurut Ki Hajar Dewantara keluarga itu adalah kumpulan beberapa orang yang karena terikat oleh satu turunan lalu mengerti dan merasa berdiri sebagai satu gabungan yang hakiki, eksensial enak dan berkehendak bersama-sama memperteguh golongan itu untuk memuliakan masing-masing anggotanya.
3)      Pengertian Masyarakat
Menurut Drs. JBAF. Mayor Polak masyarakat adalah wadah segenap antar hubungan social terdiri dari kolektiva-kolektiva serta kelompok-kelompok dan sub-sub kelompak. Menurut Prof. M.M. Djojodiguno masyarakat adalah suatu kebulatan dari segala perkembangan dalam hidup bersama antara manusia dengan manusia. Sedangkan menurut Hasan Sadily masyarakat adalah suatu keadaan badan atau kumpulan manusia yang hidup bersama.


BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Individu mempunyai makna langsung apabila konteks situasional adalah keluarga  atau lembaga social, sedangkan individu dalam konteks lingkungan social yang lebih besar seperti masyarakat atau Negara, posisi dan perannya semakin abstrak

DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu. Ilmu Sosial Dasar. Jakarta : Rineka Cipta. 2009.

.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar