BAB I
PENDAHULUAN
Latar
Belakang
Sebagai
seorang manusia hendaknya kita mengetahui bahwa Tuhan Yang Maha Esa menciptakan
mahluk-mahluknya untuk saling membantu. Oleh karena itu kita mencoba untuk
mengingatkan kembali akan pentingnya bermasyarakat karena manusia adalah mahluk
social. Manusia sebagai mahluk individu, keluarga dan masyarakat oleh karenanya
manusia dapat dikatakan sebagai mahluk social yang selalu hidup berkelompok dan
membutuhkan orang lain. Masyarakat merupakan wadah berkumpulnya individu-individu
yang hidup secara social. Masyarakat terdiri dari “saya”, “anda” dan “mereka”
yang memiliki kehendak dan keinginan
hidup bersama. Kita tahu dan menyadari bahwa manusia sebagai individu dan
mahluk social serta memahami tugas dan kewajibannya dalam setiap tatanan
kehidupan berkelompok dan dalam struktur dan system social yang ada.
BAB II
ISI
Pembahasan
1.
PERTUMBUHAN
INDIVIDU
a.
Pengertian
Individu
“Individu” berasal
dari kata latin, “individuum” artinya “yang tak terbagi”. Jadi, merupakan suatu
sebutan yang dapat dipakai untuk menyatakan suatu kesatuan yang paling kecil
dan terbatas. Dalam ilmu social, individu menekankan penyelidikan kepada
kenyataan-kenyataan hidup yang istimewa, yang tidak seberapa mempengaruhi
kehidupan manusia.
Individu bukan
berarti manusia sebagi suatu keseluruhan yang tak dapat dibagi, melainkan
sebagai kesatuan yang terbatas, yaitu sebagai manusia perseorangan. Dengan
demikian sering digunakan sebutan “orang-seorang” atau “manusia perseorangan”.
Sifat dan fungsi orang-orang di sekitar kita adalah mahluk-mahluk yang agak
berdiri sendiri; dalam pelbagai hal bersama-sama satu sama lain,tetapi dalam
banyak hal banyak pula perbedaannya. Sejenis tapi tak sama, makin tua semakin
maju dan semakin banyak pula perbedaannya. Pada setiap anggota suatu bangsa
yang bermacam-macam tingkat peradabannya, terjadi diferensiasi dengan corak
sifat dan tabiat beraneka macam.
Timbulnya
diferensiasi bukan hanya pembawaan, tetapi melalui kaitan dengan dunia yang
telah mempunyai sejarah dengan peradabannya. Hal ini memberikan keuntungan
rohani bagi individu seperti bahasa, agama, adat istiadat dan kebiasaan,
paham-paham hukum, ilmu pengetahuan dan sebagainya. Semuanya telah ditata dan
dipakai oleh generasi sebelumnya. Akan tetapi, betapapun besarnya pengaruh
lingkungan social terhadap individu, manusia tetap memiliki watak dan sifat
tertentu, yang aktif di tengah-tengah sesame manusia lainnya.
Individu adalah
seorang manusia yang tidak hanya memiliki peranan khas di dalam lingkungan
sosialnya, melainkan juga mempunyai kepribadian serta pola tingkah laku
spesifik dirinya. Individu dalam bertingkah laku menurut pola pribadinya ada
tiga kemungkinan : menyimpang dari norma kolektif kehilangan individualitasnya
atau takluk terhadap kolektif, dan mempengaruhi masyarakat seperti adanya tokoh
pahlawan atau pengacau. Mencari titik optimum antara dua pola tingkah laku
(sebagai individu dan sebagai anggota masyarakat) dalam situasi yang senantiasa
berubah, memberi konotasi “matang” atau “dewasa” dalam konteks social. Sebelum
“baik” atau “tidak baik” pengaruh individu terhadap masyarakatadalah latif. Ir. M. Munandar Soelaeman, Ilmu Sosial Dasar
Teori dan Konsep Ilmu Sosial, Edisi Revisi, PT. Eresco, Bandung, hal.55
b.
Pengertian
Pertumbuhan
Walaupun terdapatnya
perbedaan antara para ahli, namun diakui bahwa pertumbuhan itu adalah suatu
perubahan yang menuju kea rah yang lebij maju dan lebih dewasa. Perubahan ini
pada lazimnya disebut dengan istilah proses. Untuk selanjutnya timbul beberapa
pendapat mengenai pertumbuhan dari berbagai aliran yaitu asosiasi, aliran
psycologi Gestalt dan aliran Sosiologi.
Menurut para ahli
yang menganut aliran asosiasi berpendapat bahwa pertumbuhan pada dasarnya
adalah proses asosiasi. Pada proses asosiasi yang primer adalah bagian-bagian.
Bagian-bagian yang ada lebih dahulu, sedang keseluruhan ada pada kemudian.
Bagian-bagian ini terikat satu sama lain menjadi keseluruhan oleh asosiasi.
Dapat dirumuskan suatu pengertian tentang proses asosiasi yaitu terjadinya
perubahan pada seseorang secara tahap demi tahap karena pengaruh baik dari
pengalaman atau empiri luar melalui panca indra yang menimbulkan sensations
maupun pengalaman dalam mengenai keadaan batin sendiri yang menimbulkan
reflexions. Kedua macam kesan (sensation dan reflexion) merupakan pengertian
yang sederhana yang kemudian dengan proses asosiasi membentuk pengertian yang
lebih kompleks.
Lain halnya dengan
pendapat dari aliran psikologis Gestalt tentang pertumbuhan. Menurut para ahli
dan aliran ini bahwa pertumbuhan adalah proses diferensiasi. Dalam proses
diferensiasi yang pokok adalah keseluruhan, sedang bagian-bagian hanya
mempunyai arti sebagai bagian dari keseluruhan dalam hubungan fungsional dengan
bagian-bagian yang lain. Jadi menurut proses ini keseluruhan yang lebih dahulu
ada, baru kemudian menyusul bagian-bagiannya. Jadi dari pendapat aliran
psikologis Gestalt ini dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan itu adalah proses
perubahan secara perlahan-lahan pada manusia dalam mengenal suatu yang semula
mengenal sesuatu secara keseluruhan baru kemudian mengenal bagian-bagian dari
lingkungan yang ada.
Kemudian kita
mengenal konsepsi aliran sosiologi di mana ahli dari pengikut aliran ini
menganggap bahwa pertumbuhan itu adalah proses sosialisasi yaitu proses perubahan
dari sifat mula-mula yang asocial atau juga sosial kemudian tahap demi tahap
disosialisasikan.
c.
Faktor-faktor
yang mempengaruhi pertumbuhan
a) Pendirian nativistik
Menurut
para ahli dari golongan ini berpendapat bahwa pertumbuhan individu itu
semata-mata ditentukan oleh faktor-faktor yang dibawa sejak lahir. Para ahli
ini menunjukkan berbagai kesempatan atau kemiripan antara orang tua dengan
anaknya. Misalnya seorang ayah memiliki keahlian di bidan seni lukis maka
kemungkinan besar anaknya juga manjadi pelukis. Tetapi hal ini akan menimbulkan
keragu-raguan apakah kesamaan yang ada antara orang tua dengan anaknya
benar-benar disebabkan oleh pembawaan sejak lahir ataukah mungkin karena adanya
fasilitas-fasilitas atau hal-hal lain yang dapat memberikan dorongan ke arah
kemajuannya.
b)
Pendirian
Emperistik dan Environmentalistik
Pendirian ini menolak dasar dalam
pertumbuhan individu dan lebih menekankan pada lingkungan dan konsekuensinya
hanya lingkunganlah yang banyak dibicarakan. Pendirian macam ini biasa disebut
pendirian yang environmentalistik. Sehingga dapat dikatakan bahwa pendirian ini
pada hakikatnya adalah kelanjutan dari faham emperisme.
Menurut faham ini di dalam
pertumbuhan individu itu baik dasar maupun lingkungan keduanya memegang peranan
penting. Bakat atau dasar sebagai kemungkinan ada pada masing-masing individu
namun bakat dan dasar yang dipunyai itu perlu diserasikan dengan lingkungan
yang dapat tumbuh dengan baik. Di samping harus adanya dasar, juga perlu
dipertimbangkan masalah kematangan (readiness), misalnya anak yang normal
berusia enam bulan, walaupun anak tersebut hidup di antara manusia-manusia lain
ada kemungkinan juga anak itu tak akan dapat berjalan karena belum matang untuk
melakukan hal itu.
c)
Pendirian
Konvergensi dan Interaksionisme
Kebanyakan para ahli mengikuti
pendirian Konvergensi dengan modifikasi seperlunya. Suatu modifikasi yang
terkenal yang sering dianggap sebagai perkembangan lebih jauh konsepsi
konvergensi ialah konsepsi interaksionisme yang berpandangan dinamis yang menyatakan
bahwa interaksi antara dasar dan lingkungan dapat menentukan pertumbuhan
individu. Nampak lain dengan konsepsi konvergensi yang berpandangan statis
yaitu menganggap pertumbuhan individu itu ditentukan oleh dasar(bakat) dan
lingkungan.
d)
Tahap
pertumbuhan individu berdasar psikologi
Pertumbuhan individu sejak lahir
sampai masa dewasa atau masa kematangan itu melalui beberapa fase sebagai
berikut :
a) Masa vital yaitu dari 0,0 sampai
kira-kira 2,0 tahun.
b) Masa estetik dari umur kira-kira
2,0 tahun sampai kira-kira 7,0 tahun.
c) Masa intelektual dari kira-kira
umur 7,0 tahun sampai kira-kira umur 13,0 tahun atau 14,0 tahun.
d) Masa social, kira-kira umur 13,0
tahun atau 14,0 tahun sampai kira-kira umur 20,0 tahun atau 21,0 tahun.
(a) Masa Vital
Pada
masa ini individu menggunakan fungsi-fungsi biologis untuk menemukan berbagai
hal dalam dunianya. Menurut Freud tahun pertama dalam kehidupan individu itu
sebagai masa oral, karena mulut dipandang sebagai sumber kenikmatan dan
ketidaknikmatan. Pada tahun kedua anak belajar berjalan, dan dengan berjalan
itu anak mulai pula belajar menguasai ruang. Di samping itu terjadi pembiasaan
tahu akan kebersihan. Melalui tahu akan kebersihan itu anak belajar mengontrol
impuls-impuls yang dating dari dalam dirinya.
(b) Masa Estetik
Masa
ini dianggap sebagai masa pertumbuhan rasa keindahan. Sebenarnya kata estetik
diartikan bahwa pada masa ini pertumbuhan anak yang terutama adalah fungsi
panca indra. Dalam masa ini pula tampak munculnya gejala kenakalan yang umumnya
terjadi antara umur 3,0 tahun samapi umur 5,0 tahun. Anak sering menentang
kehendak orang tua, kadang-kadang menggunakan kata kasar, dengan sengaja
melarang apa yang dilarang dan tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan.
(c) Masa Intelektual (masa keserasian
bersekolah)
Ada
beberapa sifat khas pada anak-anak pada masa ini antara lain :
1) Adanya korelasi positif yang
tinggi antara keadaan jasmani dengan prestasi sekolah.
2) Sikap tunduk kepada
peraturan-peraturan, permainan yang tradisional.
3) Adanya kecenderungan memuji diri
sendiri.
4) Kalau tidak dapat menyelesaikan
sesuatu soal makan soal itu dianggap tidak penting.
5) Senang membanding-bandingkan
dirinya dengan anak lain, bila hal itu menguntungkan, dalam hubungan ini ada
kecenderungan untuk meremehkan anak lain.
6) Adanya minat kepada kehidupan
praktis sehari-hari yang kongkrit.
7) Amat realistic, ingin tahu, ingin
belajar.
8)
Gemar
membentuk kelompok sebaya, biasanya untuk dapat bermain bersama-sma. Di dalam
permainan ada kecenderungan anak tidak lagi terikat kepada aturan permainan
tradisional, mereka membuat aturan-aturan sendiri, setelah anak memasuki masa
kelas-kelas tinggi sekolah dasar.
Masa
keserasian bersekolah diakhiri dengan suatu masa pueral. Masa ini demikian
khasnya sehingga menarik perhatian. Sifat-sifat khas anak-anak masa pueral itu
dapat diringkas kedalam dua hal yaitu :
1) Ditujukan untuk berkuasa yang
menimbulkan tngkah laku dan perbuatan yang ditujukan berkuasa; apa yang
diinginkan, yang dijadikan idam-idaman adalah sekuat, sejujur semenang dan
seterusnya.
2) Tingkah laku ekstrovers yaitu
perbuatan yang berorientasi ke luar dirinya, yang dapat mendorong untuk
menyaksikan keadaan-keadaan dunia di luar dirinya dan untuk mencari teman
sebaya untuk memenuhi kebutuhan psikisnya. Pada mereka dorongan bersaing besar sekali sehingga dalam persaingan itulah
anak-anak puer mendapatkan sosialisasi lebih lanjut.
(d) Masa Remaja
Merupakan
masa yang banyak menarik perhatian masyarakat karena mempunyai sifat-sifat khas
dan yang menentukan dalam kehidupan individu dalam masyarakatnya. Karena
manusia dewasa harus hidup dalam alam kultur dan harus dapat menempatkan
dirinya di antara nilai-nilai (kultur) itu makan perlu mengenal dirinya
sebagai pendukung maupun pelaksana
nilai-nilai. Untuk itu inilah maka ia harus mengarahkan dirinya agar dapat
menemukan diri, meneliti sikap hidup yang lama dan mencoba-coba yang baru agar dapat menjadi pribadi yang dewasa. Pada
dasarnya ini masih dirinci ke dalam beberapa masa, yaitu :
1) Masa Pra Remaja
Masa
ini ditandai oleh sifat-sifat negative sehingga disebut juga masa negative.
Pada masa ini tedapat beberapa gejala yang dianggap sebagai gejala negative misalnya tidak tenang ,
kurang suka bekerja,kurang suka bergerak, lekas lelah, kebutuhan untuk tidur
besar, hati sering murung, pesimistik dan non social. Atau dapat dikatakan
secara ringkasnya sifat-sifat negative meliputi sikap negative dalam prestasi,
baik prestasi jasmani maupun prestasi mental. Negative dalam sikap social baik
dalam bentuk pasif maupun dalam bentuk agresif terhadap masyarakat. Terjadinya
gejala negative itu pada umumnya berpangkal pada biologis yaitu mulai
bekerjanya kelenjar-kelenjar kelamin,yang dapat membawa perubahan-perubahan
cepat dalam diri si remaja yang seringkali perubahan-perubahan yang cepat ini
belum mereka fahami sehingga dapat menimbulkan rasa ragu-ragu, kurang pasti dan
bersifat pemalu.
2) Masa Remaja
Sebagai
gejala pada masa ini adalah merindu puja. Dalam fase ini untuk pertama kalinya
remaja sadar akan kesepian yang tidak pernah dialaminya pada masa-masa
sebelumnya. Sebagai reaksi pertama-tama terhadap gangguan ketenangan dan
keamanan batinnya adalah protes terhadap sekitarnya yang dirasanya tiba-tiba
bersikap menterlantarkan dan memusuhinya. Sebagai tingkah berikutnya ialah
kebutuhan akan teman yang dapat memahami dan menolongnya serta yang dapat
merasakan suka dan dukanya. Di sinilah mulai timbul dalam diri remaja itu
dorongan untuk mencari pedoman hidup yaitu mencari sesuatu yang dapat
dipandang bernilai, pantas dijunjung
tinggi, dan dipuja-puja. Pada masa remaja ini mereka mengalami kegoncangan
batin, sebab pada masa ini mereka sudah tidak mau memakai pedoman hidup
kekanak-kanakan, tetapi juga belum mempunyai pedoman hidup yang baru.
3) Masa Usia Mahasiswa
Masa
umur mahasiswa dapat digolongkan pemuda-pemuda yang berusia sekitar 18,0 tahun
sampai 30,0 tahun. Mereka dapat dikelompokkan pada masa remaja akhir sampai
dewasa awal atau dewasa madya. Pada masa usia mahasiswa banyak
peristiwa-peristiwa yang perlu untuk diperhatikan, antara lain : bila dilihat
dari segi pertumbuhan, tugas perkembangan pada usia mahasiswa ini adalah
pemantapan pendirian hidup, yaitu pengujian lebih lanjut pendirian hidup serta
penyiapan diri dengan ketrampilan dan kemampuan-kemampuan yang digunakan untuk
merealisasikan pendirian hidup yang telah dipilihnya. Mahasiswa akan mengalami
perubahan secara perlahan demi sikap hidup yang idealistic ke sikap hidup yang
realistic. Dengan demikian keinginan-keinginan yang kurang realistic dalam
dirinya dan realitas dalam ligkungannya telah diganti dengan yang lebih
mendasar kepada realistis.
Dengan uraian-uraian ini
diharapkan adanya suatu pemahaman mengenai manusia sebagai individu. “Manusia
merupakan mahluk individual tidak hanya dalam arti mahluk keseluruhan jiwa
raga, melainkan juga dalam arti bahwa
tiap-tiap itu merupakan pribadi yang khas, menurut corak kepribadian, termasuk
kecakapannya sendiri.”(Dr. W.A. Gerungan, Op-cit, halaman 27.)
Individu tidak akan jelas
identitasnya tanpa adanya suatu masyarakat yang menjadi latar keberadaannya.
Karena dari sinilah kita akan baru bias memahami seorang individu seperti kata
Johnson. “…..person are what they are always in social context…..the solitary
person is unreal, abstract, artificial, abnormal……”
Manusia sebagai individu selali
berada di tengah-tengah kelompok individu yang sekaligus mematangkannya untuk
menjadi pribadi. Proses dari individu untuk menjadi pribadi, tidak hanya
didukung dan dihambat oleh dirinya, tetapi juga didukung dan dihambat oleh
kelompok sekitarnya.(Nursid Sumaatmaja, Pengantar Studio Sosial, Penerbit,
Alumni, Bandung, 1981.)
2.
FUNGSI-FUNGSI
KELUARGA
Keluarga adalah unti satuan
masyarakat yang terkecil dan sekaligus merupakan suatu kelompok kecil dalam
masyarakat. Kelompok ini, dalam hubungannya dalam perkembangan individu, sering
dikenal dengan sebutan primary group. Kelompok inilah yang melahirkan individu
dengan berbagai macam bentuk kepribadiannya dalam masyarakat. Keluarga sudah
sering kali terlihat kehilangan peranannya. Oleh karena itu adalah bijaksana
kalu dilihat dan dikembalikan peranan keluarga dan proporsi yang sebenarnya
dengan skala prioritas yang pas. Keluarga pada umumnya, diketahui terdiri dari
seorang individu (suami) individu lainnya (istri) yang selalu berusaha menjaga
rasa aman dan ketentraman ketika menghadapi segala suka duka hidup dalam eratnya
arti ikatan luhur hidup bersama.
Keluarga biasanya terdiri dari
suami, isteri dan anak-anaknya. Anak-anak inilah yag nantinya berkembang dan
mulai bisa melihat dan mengenal arti dari diri sendiri, dan kemudian belajar
dari pengenalan itu. Apa yang dilihatnya, pada akhirnya akan memberikan suatu
pengalaman individual. Dari sini ia mulai dikenal sebagai individu. Individu
ini pada tahap selanjutnya mulai merasakan bahwa telah ada individu-individu
lainnya yang berhubungan secara fungsional. Individu-individu tersebut adalah
keluarganya yang memelihara cara pandang dan cara menghadapi
masalah-masalahnya, membinanya dengan cara menelusuri dan meramalkan hari
esoknya, mempersiapkan pendidikan, keterampilan dan budi pekertinya.akhurnya
keluarga menjadi semacam model untuk mengidentifikasikan sebagai keluarga yang
broken home, moderate dan keluarga sukses.
Keluarga sebagai kelompok pertama
yang dikenal individu sangat berpengaruh secara langsung terhadap perkembangan
individu sebelum maupun sesudah terjun langsung secara individual di
masyarakat.
a.
Pengertian
Fungsi Keluarga
Dalam kehidupan keluarga sering
kita jumpai adanya pekerjaan-pekerjaan yang harus dilakukan. Suatu pekerjaan
atau tugas yang harus dilakukan itu biasa disebut fungsi. Fungsi keluarga
adalah suatu pekerjaan-pekerjaan atau tugas-tugas yang harus dilaksanakan di
dalam atau oleh keluarga itu.
b.
Macam-macam
Fungsi Keluarga
Pekerjaan-pekerjaan yang harus
dilaksanakan oleh keluarga itu dapat digolongkan/dirinci kedalam beberapa
fungsi, yaitu :
a) Fungsi biologis, dengan fungsi
ini diharapkan agar keluarga dapat menyelenggarakan persiapan-persiapan
perkawinan bagi anak-anaknya. Karena dengan perkawinan akan terjadi proses
kelangsungan keturunan. Dan setiap manusia pada hakikatnya terdapat semacam kebutuhan
biologis bagi kelangsungan hidup keturunannya, melalui perkawinan.
b) Fungsi pemeliharaan, keluarga
diwajibkan untuk berusaha agar setiap anggotanya dapat terlindung dari gangguan
udara dengan berusaha menyediakan rumah, gangguan penyakit dengan berusaha
menyediakan obat-obatan, gangguan bahaya dengan berusaha menyediakan senjata
pagar tembok dll. Bila dalam keluarga fungsi ini telah dijalankan dengan
sebaik-baiknya sudah barang tentu akan membantu terpeliharanya keamanan dalam
masyarakat pula. Sehingga terwujud suatu masyarakat yang terlepas dari segala
gangguan apa pun yang terjadi.
c) Fungsi ekonomi, keluarga berusaha
menyelenggarakan kebutuhan manusia yang pokok yaitu kebutuhan makan dan minum,
kebutuhan pakaian untuk menutupi tubuh dan kebutuhan tempat tinggal. Berhubung
dengan fungsi penyelenggaraan kebutuhan pokok ini maka orang tua diwajibkan
untuk berusaha keras agar supaya setiap anggota keluarga dapat cukup makan dan
minum, cukup pakaian serta tempat tinggal. Sehubungan dengan fungsi ini keluarga
juga berusaha melengkapi kebutuhan jasmani yang sifatnya umum dan individual.
Yang sifaynya umum misalnya meja, kursi, tempat tidur, lampu dll sedangkan yang
bersifat individual seperti alat-alat
sekolah, pakaian, perhiasan dll.
d) Fungsi keagamaan, di Negara
Indonesia berideologi Pancasila berkewajiban kepada setiap warganya untuk
menghayati, mendalami dan mengamalkan Pancasila di dalam perilaku dan kehidupan
keluarganya sehingga benar-benar diamalkan P4 ini dalam kehidupan keluarga yang
Pancasila. Dengan dasar pedoman ini keluarga diwajibkan untuk menjalani dan
mendalami serta mengamalkan ajaran-ajaran agama dalam pelakunya sebagai manusia
yang takwa dengan Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian akan tercermin bentuk
masyarakat yang Pancasila apabila semua keluarga menjalankan p4 dan fungsi
keluarga ini.
e) Fungsi social, dengan fungsi ini
keluarga berusaha untuk mempersiapkan anak-anaknya bekal-bekal selengkapnya
dengan memperkenalkan nilai-nilai dan
sikap-sikap yang dianut oleh masyarakat serta mempelajari peranan-peranan yang
diharapkan akan mereka jalankan kelak bila sudah dewasa. Dengan demikian
terjadi apa yang disebut dengan istilah sosialisasi. Dengan fungsi ini
diharapkan agar di dalam keluarga selalu terjadi pewarisan kebudayaan atau
nilai-nilai kebudayaan. Dengan melalui nasihat dan larangan, orang tua
menyampaikan norma-norma hidup tertentu dalam bertingkah laku. Dalam buku Ilmu
Sosial Dasar karangan Drs. Soewaryo Wangsanegara dikatakan bahwa fungsi-fungsi
keluarga meliputi pembentukan kepribadian, erat kaitannya dengan butir a,
keluarga merupakan eksponen dari kebudayaan masyarakat karena menempatkan
posisi kunci, sebagai lembaga perkumpulan perekonomian dan berfungsi sebagai
pusat pengasuhan dan pendidikan.
3.
INDIVIDU,
KELUARGA DAN MASYARAKAT
1) Pengertian Individu
Individu berasal dari kata latin,
“individuum” yang artinya yang tak terbagi. Kata individu merupakan sebutan
yang dapat untuk menyatakan suatu kesatuan yang paling kecil dan terbatas. Kata
individu bukan berarti manusia sebagai suatu keseluruhan yang tak dapat dibagi
melainkan sebagai kesatuan yang terbatas yaitu sebagai manusia perorangan,
demikian pendapat Dr. A. Lysen.
2) Pengertian Keluarga
Menurut Sigmund Freud keluarga
itu terbentuk karena adanya perkawinan pria dan wanita, sehingga keluarga itu
merupakan perwujudan dorongan-doronga seksual. Sedangkan menurut Ki Hajar Dewantara keluarga itu
adalah kumpulan beberapa orang yang karena terikat oleh satu turunan lalu
mengerti dan merasa berdiri sebagai satu gabungan yang hakiki, eksensial enak
dan berkehendak bersama-sama memperteguh golongan itu untuk memuliakan
masing-masing anggotanya.
3) Pengertian Masyarakat
Menurut Drs. JBAF. Mayor Polak
masyarakat adalah wadah segenap antar hubungan social terdiri dari
kolektiva-kolektiva serta kelompok-kelompok dan sub-sub kelompak. Menurut Prof.
M.M. Djojodiguno masyarakat adalah suatu kebulatan dari segala perkembangan
dalam hidup bersama antara manusia dengan manusia. Sedangkan menurut Hasan
Sadily masyarakat adalah suatu keadaan badan atau kumpulan manusia yang hidup
bersama.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Individu mempunyai makna langsung
apabila konteks situasional adalah keluarga
atau lembaga social, sedangkan individu dalam konteks lingkungan social
yang lebih besar seperti masyarakat atau Negara, posisi dan perannya semakin
abstrak
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu. Ilmu Sosial Dasar. Jakarta : Rineka Cipta. 2009.
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar